Presiden Prabowo Subianto membeberkan penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp18 ribu per dolar AS.

Menurutnya, kekayaan nasional terus mengalir ke luar negeri selama puluhan tahun.

in1

>>> Marc Marquez Resmi Perpanjang Kontrak di Ducati hingga 2028

Prabowo menyampaikan hal itu di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6). Ia merujuk pada data United Nations Comtrade yang dianalisis Dewan Ekonomi Nasional (DEN).

"Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah, ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar.

Kalau darah kita tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati," ujar Prabowo.

Ia menjelaskan, Indonesia sebenarnya mencatat surplus perdagangan dan keuntungan besar dari aktivitas ekonomi internasional. Namun, sebagian besar keuntungan itu justru keluar kembali dalam bentuk arus modal.

Data menunjukkan, dalam 22 tahun terakhir Indonesia hanya mengalami kondisi kurang menguntungkan selama lima tahun. Sisanya, 17 tahun, mencatat surplus.

Total keuntungan Indonesia selama 22 tahun mencapai US$436 miliar atau setara Rp7.790,01 triliun (kurs Rp17.867 per dolar AS).

Namun, arus dana yang keluar mencapai US$343 miliar atau Rp6.134,14 triliun.

"Kalau kita lihat selama 22 tahun bangsa Indonesia sebagai bangsa sebenarnya telah untung.

>>> Pollux Group: Hotel Ramah Lingkungan Makin Diminati Wisatawan

Dari 22 tahun, 17 tahun kita untung dan keuntungan kita adalah US$436 miliar selama 22 tahun," kata Prabowo.

Ia menilai kondisi ini menunjukkan fenomena net outflow of national wealth.

Meskipun Indonesia kaya sumber daya alam dan terus surplus, manfaat ekonomi yang tersisa di dalam negeri menjadi kecil.

"Begitu kayanya Republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri. Jadi kita lihat dari neraca itu inflow, outflow," ujarnya.

Pernyataan Prabowo muncul di tengah tekanan terhadap rupiah. Pada penutupan perdagangan Selasa (23/6), rupiah berada di Rp17.859 per dolar AS, melemah 16 poin.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah masih berpotensi tertekan akibat penguatan dolar AS.

Investor menunggu perkembangan pembicaraan damai AS-Iran dan arah suku bunga The Fed.

"Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh ketidakyakinan investor pada pembicaraan damai AS-Iran serta prospek suku bunga The Fed," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.

>>> Universitas Terbuka Tawarkan Kuliah Sarjana Mulai Tujuh Ribu Sehari

com.