Nilai tukar rupiah ditutup melemah 16 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp17.859 per dolar AS pada perdagangan Selasa (23/6) sore.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS.

in1

>>> 4 Tim yang Sudah Tersingkir dari Piala Dunia 2026

Yuan China turun 0,15 persen dan peso Filipina melemah 0,37 persen, sementara ringgit Malaysia menguat 0,11 persen.

Di kawasan lain, dolar Singapura melemah 0,17 persen dan won Korea Selatan turun 0,12 persen.

Yen Jepang justru menguat 0,08 persen, sedangkan dolar Hong Kong bergerak stabil.

Mata uang negara maju kompak melemah terhadap dolar AS.

Euro Eropa melemah 0,19 persen, poundsterling Inggris turun 0,28 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,82 persen.

>>> IHSG Ditutup Melemah ke 6.101, 373 Saham Terkoreksi

Dolar Kanada melemah 0,14 persen dan franc Swiss turun 0,14 persen terhadap dolar AS.

Sentimen Risk-Off Global Tekan Rupiah

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah sejalan dengan tekanan yang dialami mayoritas mata uang regional dan global.

"Rupiah dan mata uang regional maupun utama umumnya melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-off global yang dipicu oleh kekhawatiran prospek kenaikan suku bunga dan aksi jual di sektor teknologi," ujar Lukman.

Meski demikian, menurut Lukman, pelemahan rupiah masih relatif terbatas dibandingkan sejumlah mata uang lainnya. Pelaku pasar masih menaruh harapan pada pasar keuangan domestik.

>>> Ketum PB PABSI Dukung Arahan Prabowo Bangun Pelatnas Jangka Panjang

"Rupiah sendiri tidak melemah terlalu besar, dengan investor masih berharap dan mengantisipasi pengumuman MSCI yang diperkirakan akan mempertahankan status emerging market pasar ekuitas Indonesia," pungkasnya.