Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Selasa (23/6) pagi.

Mata uang Garuda berada di level Rp17.885 per dolar AS, turun 12 poin atau 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

in1

>>> Tolak Gencatan Senjata, Menteri Israel Sebut Lebanon Arena Bermain

Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya.

Peso Filipina terkoreksi 0,37 persen, yen Jepang turun 0,01 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

Namun, beberapa mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,03 persen dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,31 persen.

Sementara dolar Singapura dan won Korea Selatan bergerak stabil.

Di kelompok mata uang negara maju, pergerakannya bervariasi.

>>> Klasemen Piala Dunia 2026: Prancis dan Norwegia Pesta Gol, Sama-sama 6 Poin

Euro Eropa turun 0,01 persen, poundsterling Inggris melemah 0,05 persen, dolar Australia terkoreksi 0,25 persen, dan dolar Kanada turun 0,03 persen.

Sebaliknya, franc Swiss menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.

Tekanan Berlanjut karena Dolar AS Menguat

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan. Hal ini seiring penguatan dolar AS di pasar global.

"Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh ketidakyakinan investor pada pembicaraan damai AS-Iran serta prospek suku bunga The Fed," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.

com.

>>> Cara Cek PIP Juni 2026 Lewat HP Secara Online, Mudah dan Cepat

Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.