Aceh kembali menjadi sorotan dalam peta hulu migas nasional.

Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal, menyatakan potensi migas di provinsi itu masih sangat besar, baik di darat maupun lepas pantai.

in1

>>> Jadwal Bioskop Trans TV 24 - 28 Juni 2026

Warisan kejayaan ladang gas Arun di Aceh Utara menjadi pijakan. Ladang itu memiliki cadangan sekitar 16 triliun kaki kubik (TCF) dan pernah menjadikan Indonesia anggota OPEC.

Nasri menyebut temuan di Laut Andaman yang mencapai 10 TCF turut memperkuat prospek migas Aceh.

Aceh juga berada di antara dua cekungan besar, yaitu North Sumatra Basin dan Sibolga Basin.

Eksplorasi Baru Diperlukan

BPMA menilai eksplorasi baru harus terus didorong karena sejumlah wilayah kerja eksisting sudah memasuki fase lapangan tua. Blok B, misalnya, telah dikembangkan sejak era 1970-an.

Blok A dan Blok Pase juga mengalami penurunan alamiah. Nasri mengatakan targetnya adalah mencari cadangan baru dan investor baru untuk meningkatkan produksi.

BPMA aktif membawa potensi migas Aceh ke forum energi nasional dan internasional, seperti IPA, ADIPEC di Dubai, dan forum di Singapura.

>>> Gibran Disorot Usai Mahasiswa Ngaku Terima Uang, Publik Tunggu Klarifikasi

Upaya ini mulai membuahkan hasil.

Perusahaan Jepang JAPEX dan JOGMEC menjadi salah satu hasil penjajakan BPMA pada 2023. Proses meyakinkan mereka berlangsung sekitar tujuh bulan hingga akhirnya mereka menyatakan minat berinvestasi.

Selain Jepang, BPMA tengah memproses Wilayah Kerja Jiwa yang melibatkan PT Agra Energi dan Maccon Energy dari Bahrain.

Wilayah itu masih dalam tahap joint study.

BPMA juga menerima surat keberminatan dari PT Energi Hijau Biru yang berkonsorsium dengan Barakah Petroleum dari Malaysia.

>>> Ekonom: Pasar Respons Positif Kenaikan BI Rate, Rupiah Menguat

Blok Musraya yang diajukan PT Putra Indo Manunggal juga masih dalam proses.