Lautan kita sudah lemah akibat polusi dan eksploitasi berlebihan. Perubahan iklim memperparah keadaan dengan menaikkan suhu, mengasamkan air, dan menaikkan permukaan laut.

Akibatnya, keanekaragaman hayati menurun, banjir makin sering, erosi pantai semakin cepat, dan rantai makanan terganggu. Badai dan siklon juga makin kuat, mengancam ratusan juta jiwa.

in1

>>> AUM Reksadana Pendapatan Tetap Turun Menjadi Rp 240 Triliun pada Mei 2026

Para ilmuwan terus mengingatkan bahwa kita harus mengurangi jejak lingkungan, terutama emisi gas rumah kaca. Namun, ada ancaman lain yang kurang dikenal namun tak kalah berbahaya.

Longsor Bawah Laut dan Tsunami

Di dasar laut, longsoran besar bisa terjadi secara tiba-tiba. Tepi benua—tempat daratan bertemu dasar laut—dapat runtuh dan memicu tsunami.

Sekitar 8.000 tahun lalu, longsor di lepas pantai Norwegia mendorong volume air raksasa yang kemudian menerjang pantai Inggris.

Longsor yang lebih kecil pun bisa merusak kabel dan pipa di dasar laut.

Perubahan iklim diduga meningkatkan frekuensi dan skala longsor bawah laut di beberapa wilayah karena lebih banyak sedimen terbawa banjir dan badai ke laut.

Tsunami juga bisa dipicu gempa bumi. Gempa Lisbon 1755 memicu tsunami yang menerjang Cornwall dan Irlandia selatan.

Gempa Samudra Hindia 2004 menewaskan ratusan ribu orang di Indonesia.

Bahkan turbin angin lepas pantai dengan fondasi monopile disebut dapat memberi tekanan pada dasar laut dan memicu longsor.

>>> Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi Kuartal II 2026

Arus Turbiditas dan Gunung Berapi Bawah Laut

Arus turbiditas adalah longsoran bawah laut berupa aliran pasir, lumpur, dan air yang meluncur menuruni lereng. Kecepatannya bisa mencapai 70 km/jam dan jarak tempuhnya ratusan kilometer.