Dana kelolaan atau asset under management (AUM) mayoritas produk reksadana menyusut pada Mei 2026. Hal ini terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian investor di tengah gejolak pasar keuangan.

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia menunjukkan penurunan AUM terdalam terjadi pada reksadana pendapatan tetap.

in1

>>> Pemerintah Luncurkan Paket Stimulus Ekonomi Kuartal II 2026

Kategori ini merosot dari Rp 266,80 triliun pada April 2026 menjadi Rp 240,67 triliun pada Mei 2026.

Kategori reksadana saham juga melemah dari Rp 71,91 triliun menjadi Rp 65,23 triliun. Reksadana campuran turun dari Rp 38,82 triliun menjadi Rp 35,12 triliun.

Sebaliknya, reksadana pasar uang justru tumbuh dari Rp 150,73 triliun menjadi Rp 152,42 triliun pada periode yang sama.

Penyebab Penurunan AUM

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai penurunan ini dipicu oleh pergeseran preferensi investor ke instrumen defensif.

Pelemahan rupiah, kenaikan yield obligasi, koreksi saham, serta BI Rate di level 5,75% menjadi faktor pemicu.

"Selain karena adanya redemption, penurunan AUM juga berasal dari turunnya nilai pasar aset yang menjadi underlying reksadana saham, pendapatan tetap, dan campuran," ujar Budi.

>>> Diabetes Tipe 5 Ditemukan, 20 Juta Orang di Dunia Terkena Dampaknya

Menurut Budi, reksadana pendapatan tetap menjadi yang paling sensitif terhadap kenaikan yield obligasi. Kondisi ini menekan nilai aktiva bersih instrumen tersebut.

"Kondisi ini mendorong sebagian investor melakukan redemption atau memindahkan dana ke instrumen yang risikonya lebih rendah sambil menunggu pasar obligasi lebih stabil," kata Budi.

Reksadana pasar uang kini menjadi pilihan utama investor yang mencari risiko rendah dan likuiditas tinggi. Instrumen ini digunakan untuk menempatkan dana sementara waktu.

"Jika kondisi tersebut membaik, AUM reksadana saham dan pendapatan tetap berpotensi pulih.

Namun, selama volatilitas pasar masih tinggi, pertumbuhan terbesar kemungkinan masih berasal dari reksadana pasar uang," ujar Budi.

Budi menambahkan bahwa manajer investasi perlu memperkuat edukasi, diversifikasi produk, serta transparansi komunikasi.

>>> Imperial College London Siap Bantu RI Bangun 10 Kampus Kedokteran dan Sains

"Pada situasi seperti sekarang, kemampuan menjaga kepercayaan investor sering kali lebih menentukan dibandingkan sekadar mengejar return jangka pendek," katanya.