Mayoritas jenis reksadana mengalami tekanan kinerja pada Mei 2026. Penurunan ini dipicu oleh koreksi yang melanda pasar saham serta obligasi secara bersamaan.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dikutip dari Investasi, nilai asset under management (AUM) reksadana pendapatan tetap merosot dari Rp 266,80 triliun pada April 2026 menjadi Rp 240,67 triliun pada Mei 2026.

in1

>>> Nothing Batalkan Peluncuran CMF Phone Baru Akibat Lonjakan Harga Memori

Kondisi serupa terjadi pada reksadana saham yang mencatat penurunan dari Rp 71,91 triliun menjadi Rp 65,23 triliun.

Nilai kelolaan reksadana campuran juga melemah dari Rp 38,82 triliun menjadi Rp 35,12 triliun.

Sebaliknya, reksadana pasar uang justru tetap tumbuh positif.

Kategori ini membukukan kenaikan dana kelolaan dari Rp 150,73 triliun menjadi Rp 152,42 triliun pada Mei 2026.

Penyebab Penurunan dan Prospek ke Depan

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menjelaskan bahwa berkurangnya dana kelolaan pada reksadana saham dan pendapatan tetap dipengaruhi oleh koreksi harga saham maupun obligasi sepanjang Mei 2026.

Faktor penggerak fluktuasi harga tersebut mencakup peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) menjadi 5,75%.

Selain itu, kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang berlanjut hingga Juni 2026 turut memberi dampak.

"Penurunan harga obligasi dan saham terjadi bersamaan dan cukup signifikan pada Mei. Kondisi ini berpengaruh terhadap nilai aset kelolaan reksadana," ujar Rudiyanto.

Situasi pasar yang dinamis membuat pemodal cenderung memindahkan dana ke instrumen investasi yang lebih aman.

>>> Cara Melacak iPhone yang Mati Total Lewat Find My dan iCloud

Hal ini terlihat dari penguatan dana kelolaan reksadana pasar uang yang kerap menjadi opsi penempatan jangka pendek.