Perceraian sering dianggap selesai saat pasangan resmi berpisah. Namun bagi anak, peristiwa itu bisa menjadi awal luka emosional yang bertahan hingga dewasa.

Aktivis perempuan dan penulis buku "Makamkan Ibu di Samping Ayah", Kalis Mardiasih, mengingatkan pentingnya memperhatikan dampak psikologis pada anak korban perceraian.

in1

>>> Warga RI Tak Sadar Makan Mikroplastik, Cek 7 Barang Dapur Ini

Data Kantor Wilayah Kementerian Hukum DIY mencatat 4.664 kasus perceraian di Daerah Istimewa Yogyakarta sepanjang 2025.

Secara nasional, angka perceraian mencapai 438.168 kasus, meningkat sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Kalis, di balik angka tinggi itu terdapat persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu trauma antargenerasi atau intergenerational trauma.

"Luka yang jarang dibicarakan itu menjadi salah satu akar masalah kesehatan mental yang dialami banyak orang, tetapi sering luput dari perhatian," kata Kalis di Yogyakarta, Minggu (21/6/2026).

Kalis menilai perceraian bukan sekadar berakhirnya hubungan suami istri. Perpisahan orang tua juga meninggalkan dampak psikologis mendalam bagi anak, meski tidak selalu terlihat.

Banyak orang tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti bekerja dan sekolah, tetapi sebenarnya memikul beban emosional berat akibat pengalaman masa kecil.

"Orang dengan trauma atau memiliki luka dalam keluarga tetap kerja, tetap sekolah, tetap bermain dengan teman-temannya. Kehidupan tidak memberikan kita jeda.

>>> Tiga Tips Mudah Membersihkan Ambang Jendela Rumah agar Tetap Bersih

Jadi ada banyak orang yang kelihatannya biasa saja, padahal sebenarnya memikul beban emosional yang sangat berat di pundaknya," ujarnya.

Trauma yang Dianggap Aib Keluarga

Kalis mengatakan tingginya angka perceraian di Indonesia belum diimbangi dengan pembahasan yang memadai mengenai dampaknya terhadap anak.

Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa persoalan keluarga merupakan aib yang tidak layak dibicarakan di ruang publik.

Akibatnya, banyak anak tumbuh dengan pengalaman emosional yang tidak pernah diproses secara sehat. Dalam pertemuan dengan pembaca bukunya, Kalis menemukan banyak orang memiliki pengalaman serupa.

"Hampir semua yang berbagi cerita mengatakan mereka juga anak dari orang tua yang bercerai dan memiliki trauma generasional.

Dalam satu ruangan saja ternyata banyak orang yang membawa pengalaman yang sama," ungkapnya.

>>> Dampak Kenaikan BI Rate: Perbankan Hadapi Risiko Kredit dan Profitabilitas

Menurut Kalis, luka emosional tidak selalu lahir dari kebencian. Trauma justru diwariskan karena generasi sebelumnya tidak pernah mendapatkan kesempatan atau pengetahuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.