Kementerian Keamanan Negara China menuding badan intelijen asing menggunakan metode baru untuk memantau perairan mereka.

Metode tersebut berupa hewan laut berukuran besar yang dipasangi sensor khusus, seperti 'ikan mata-mata' dan 'kura-kura mata-mata'.

in1

>>> Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha

Melalui unggahan di platform WeChat, kementerian itu memperingatkan adanya 'perang rahasia tidak terlihat' di wilayah perairan China.

Pihak asing dituduh mengumpulkan data sensitif secara diam-diam untuk memetakan bawah laut yang mengancam keamanan nasional.

Data lingkungan yang dikumpulkan meliputi suhu air, salinitas, dan arus laut secara real-time, lalu dikirim ke luar negeri melalui jaringan satelit.

Temuan Perangkat Lain

Selain hewan, kementerian mengaku menemukan pelampung khusus yang ditempatkan lembaga penelitian kelautan asing.

>>> GM Tambah Puluhan Robot Baru Usai PHK Seribu Karyawan

Pelampung itu dilengkapi sensor meteorologi dan diklaim mampu melacak tanda akustik kapal selam China secara real-time.

Mereka juga mengidentifikasi 'glider gelombang' yang digerakkan ombak dan tenaga surya, diduga untuk mengirim data lingkungan terkait militer dan aktivitas kapal.

Klaim spionase asing kerap dilontarkan China di Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Selat Taiwan.

Pada 2024, China juga mengklaim menemukan mercusuar tersembunyi di dasar laut yang memandu transit kapal selam asing.

>>> Fenomena Fatherless: 1 dari 4 Anak Indonesia Tumbuh Tanpa Kehadiran Ayah

Pemerintah China menyediakan imbalan finansial bagi nelayan yang menemukan perangkat mata-mata, sebesar 50.000 hingga 500.000 yuan (Rp131 juta hingga Rp1,31 miliar).