Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Bung Hatta (UBH) Padang menggelar riset pengembangan situs arkeologi di pesisir Sumatera Barat (Sumbar).

Kegiatan berlangsung selama sepuluh hari, mulai 8 hingga 17 Juni.

in1

>>> China Perketat Pengawasan Ekspor Indium, Picu Kekhawatiran Global

BRIN mengerahkan tim dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Maritim dan Budaya Berkelanjutan yang berkolaborasi dengan tim dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBH.

Mitra Peneliti Lokal dari UBH Padang, Dr Harfiandri Damanhuri, mengatakan riset ini untuk mendukung pengembangan dan mitigasi situs arkeologi di sepanjang pesisir Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Tujuan riset kolaboratif tersebut adalah mengidentifikasi kondisi peninggalan situs maritim setelah terjadinya bencana hidrometeorologi dan beberapa kali gempa kecil.

Puncaknya adalah bencana banjir besar yang terjadi di sejumlah daerah di Sumbar pada November 2025.

Lewat riset itu nantinya akan dihasilkan publikasi sekaligus rekomendasi model mitigasi dan perlindungan terhadap situs unik yang sudah berumur di atas 50 tahun.

>>> Jadwal Puasa Tasua dan Asyura Juni 2026, Lengkap Niat dan Keutamaannya

Hasil riset kolaboratif diharapkan memberikan dampak luas, khususnya sebagai panduan dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Riset ini juga bisa menjadi dasar implementasi perlindungan dan mitigasi situs oleh pihak di nagari atau desa di sekitar situs.

Peneliti dari Pusat Riset BRIN Dr Ira Dillenia (Arkeologi Maritim) menjadi ketua tim, beranggotakan Gendro Keling MA (Arkeolog Maritim) dan Dr Ing Semeidi Husrin (Kebencanaan Geologi Kelautan).

Mitra peneliti lokal antara lain Dr Harfiandri Damanhuri (Konservasi dan Ekowisata Bahari) dari Program Studi Sumberdaya Perairan Pesisir dan Kelautan (SP2K) Pascasarjana Fakultas Perikanan dan Kelautan UBH.

>>> Kapan Puasa Tasua dan Asyura 2026? Ini Tanggal, Bacaan Niat, dan Keutamaannya

Riset dibantu tim lapangan Samsuardi (Dive Master) yang melakukan pengambilan data di Situs Arkeologi Benteng di daratan Pulau Cingkuak dan Situs Arkeologi Bawah Laut Kapal MV Boelongan Nederland di Kawasan Teluk Mandeh Pesisir Selatan.