Cinta dan sejarah yang tidak biasa berkumpul menjadi satu kesatuan dalam novel Cerita Cinta Enrico karya Ayu Utami.

Kisah cinta yang tumbuh dari luka, pergulatan batin, dan peristiwa-peristiwa besar yang membentuk Indonesia menjadikan novel ini bukan sekadar roman.

in1

>>> 285 Jiwa di Parigi Moutong Terdampak Gempa Magnitudo 6,7

Sejak halaman pertama, Ayu Utami membawa pembaca ke masa ketika Indonesia sedang bergolak.

Enrico lahir pada tahun 1958, bertepatan dengan pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, digambarkan sebagai "bayi gerilya" yang harus bertahan hidup di tengah situasi perang.

Namun, sejarah terbesar dalam hidup Enrico bukanlah PRRI atau Orde Baru, melainkan ibunya.

Syrnie, atau May, adalah perempuan cerdas, tangguh, dan mencintai anaknya dengan cara yang kadang terasa berlebihan.

Setelah kehilangan anak pertamanya, Sanda, May hidup dalam trauma mendalam. Ketakutan kehilangan membuatnya menjadi ibu yang protektif, bahkan mengekang.

Enrico tumbuh dalam cinta yang besar, tetapi juga merasakan sesak.

Ayu Utami tidak menghadirkan hubungan ibu dan anak secara hitam putih. Tidak ada ibu yang sepenuhnya benar, dan tidak ada anak yang sepenuhnya salah.

Enrico mencintai ibunya, tetapi juga ingin bebas darinya.

"Orang yang tidak pernah merasa tertekan tak akan bisa menginginkan kebebasan."

Kalimat itu menggambarkan jiwa Enrico dan relevan bagi banyak orang hari ini yang mencintai keluarga namun ingin menentukan jalan hidup sendiri.

Perjalanan Menuju Kebebasan

Perjalanan Enrico menuju kebebasan membawanya ke Bandung sebagai mahasiswa ITB.

Di sana, ia menemukan dunia baru: aktivisme, perlawanan terhadap Orde Baru, dan mulai mempertanyakan agama, kekuasaan, moralitas, hingga seksualitas.

Ayu Utami menuliskan semuanya dengan jujur dan berani.