Bahruddin Bekri kembali merilis karya terbaru berjudul Haru-Biru. Novel ini memadukan dua cerita berbeda dalam satu buku.

Meski alur dan konfliknya tidak saling berkaitan, keduanya mengangkat tema kemanusiaan, pengorbanan, cinta, dan pergulatan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

in1

>>> Geely Farizon Pamerkan Solusi Mobilitas Hijau di Hong Kong Expo 2026

Pembaca diajak merenungkan makna kasih sayang, keberanian, dan ketulusan melalui pengalaman membaca yang menghibur.

Kisah Pertama: Pengorbanan di Tengah Keterbatasan

Cerita pertama berpusat pada seorang pria yang kehilangan fungsi kedua ginjalnya. Meski kondisi fisiknya melemah, ia memiliki satu keinginan besar: membahagiakan orang yang dicintainya.

Ia meminta bantuan Rayyan, seorang kurir dengan kehidupan sederhana. Permintaan itu membawa Rayyan dalam perjalanan emosional yang mengubah cara pandangnya terhadap hidup dan pengorbanan.

Kisah Kedua: Permainan Psikologis di Hutan

Kisah kedua menghadirkan nuansa berbeda.

Rayyan kembali menjadi tokoh utama, kali ini harus mengikuti permainan psikologis di tengah hutan dengan hadiah besar yang menggiurkan.

Tantangan terbesarnya adalah berpasangan dengan Citra Indah Qalisya, seorang perempuan yang sangat membencinya. Ketegangan dan konflik batin mewarnai dinamika hubungan mereka.

Kelebihan utama novel ini terletak pada kemampuan penulis membangun emosi pembaca. Cerita pertama sangat menyentuh karena menggambarkan perjuangan seseorang yang tetap ingin memberi kebahagiaan meski dalam kondisi sulit.

Penulis menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu diwujudkan melalui kemewahan, melainkan ketulusan hati dan pengorbanan.

>>> Pangdam: Pembangunan Jembatan Garuda Perkuat Konektivitas Masyarakat Papua

Cerita kedua menawarkan ketegangan berbeda. Permainan emosi di hutan membuat pembaca penasaran dengan tantangan yang dihadapi para peserta.

Hubungan Rayyan dan Citra yang awalnya penuh kebencian berkembang perlahan melalui konflik bersama. Perubahan itu terasa alami dan memberi warna tersendiri.