Rekor Hujan Es Terbesar Sejak 1950, Frekuensinya Meningkat Akibat Pemanasan Global
Badai petir hebat yang disertai hujan es telah melanda berbagai belahan dunia, termasuk Prancis dan Amerika Serikat.
Di negara bagian Illinois, seorang meteorolog menemukan batu es raksasa yang memecahkan rekor.
>>> Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Lampaui Rata-rata G20
Victor Gensini, meteorolog dari Northern Illinois University, mengukur batu es berdiameter 40 sentimeter dengan berat lebih dari 450 gram.
Temuan ini dilaporkan ke Smithsonian Magazine.
“Kami belum pernah melihat yang seperti ini sejak pencatatan hujan es dimulai pada pertengahan 1950-an,” ujar Gensini. Batu es tersebut bahkan lebih besar dari bola basket.
Frekuensi Hujan Es Besar Diprediksi Meningkat
Studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature menunjukkan bahwa batu es besar akan semakin sering terjadi seiring pemanasan iklim.
Dalam skenario terburuk, frekuensi hujan es lebih besar dari kelereng bisa naik 47% pada tahun 2100.
Bahkan dalam skenario terbaik, kemungkinan badai menghasilkan bola es raksasa tetap meningkat sebesar 38%.
>>> PB PASI: Pelatnas Multiyears Kunci Prestasi Atletik Berkelanjutan
Para ilmuwan membuat simulasi komputer dengan variabel suhu, angin, dan kelembapan untuk memprediksi hal ini.
Hujan es terbentuk ketika angin kencang membawa uap air ke atmosfer tinggi hingga membeku. Partikel es kemudian mengumpul dan jatuh saat terlalu berat.
Udara yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air, sehingga memperbesar batu es.
Risiko hujan es diperkirakan meningkat di lintang tinggi, terutama di Eropa dan Amerika Serikat.
Studi lain oleh ilmuwan Prancis menemukan bahwa hujan es parah di Prancis dan Jerman kini 30% lebih sering dibandingkan sebelum era emisi bahan bakar fosil skala besar.
Kerusakan akibat hujan es di AS mencapai sekitar 10 miliar dolar AS per tahun.
>>> CORTIS Dengarkan Lagu Juicy Luicy Jelang Tampil di Allo Bank Festival 2026
Namun, menurut ilmuwan iklim Seth Borenstein, dampaknya sangat bergantung pada wilayah dan jenis bangunan, karena standar konstruksi saat ini belum selalu dirancang untuk menahan cuaca ekstrem.
Update Terbaru
Presiden Prabowo Instruksikan Pemangkasan Masa Tunggu Haji
Sabtu / 20-06-2026, 22:51 WIB
Transmart Full Day Sale Minggu Ini: Diskon Rak Besi Rp 1 Jutaan
Sabtu / 20-06-2026, 22:46 WIB
PPIH: Haji asal Aceh meninggal di Tanah Suci bertambah jadi 15 orang
Sabtu / 20-06-2026, 22:44 WIB
Wapres AS: Tak Ada Bukti Iran Masih Tutup Selat Hormuz
Sabtu / 20-06-2026, 22:40 WIB
Amanah Aceh Libatkan Warga Kembangkan Melon Golden Alisha
Sabtu / 20-06-2026, 22:36 WIB
NPD Guncang Allo Bank Fest 2026, Debut di Panggung Festival
Sabtu / 20-06-2026, 22:31 WIB
Arsenal Juara Liga Inggris Setelah 22 Tahun, City Imbang
Sabtu / 20-06-2026, 22:31 WIB
Wamen ATR/BPN: Memuliakan sungai berarti memuliakan negara
Sabtu / 20-06-2026, 22:25 WIB
Rusia Klaim Gagalkan Serangan Drone Ukraina ke Kilang Minyak Tyumen
Sabtu / 20-06-2026, 22:25 WIB
Jasamarga Transjawa Tol Lakukan Pemeliharaan Berkala di Tol Jakarta-Cikampek
Sabtu / 20-06-2026, 22:25 WIB
Ronaldinho Dikabarkan Gabung Klub Divisi Tiga Italia Ravenna FC
Sabtu / 20-06-2026, 22:24 WIB
BNPB: Dua Kabupaten di Jawa Tengah Mulai Dilanda Kekeringan
Sabtu / 20-06-2026, 22:24 WIB
Wapres Gibran: Pembangunan di Papua Jadi Prioritas Pemerintah
Sabtu / 20-06-2026, 22:24 WIB
PNM Raih Empat Penghargaan di Indonesia Sustainability Award 2026
Sabtu / 20-06-2026, 22:24 WIB






