Para peneliti dari Queen Mary University of London menemukan kondisi luar biasa di Kepulauan Svalbard, Norwegia, pada Februari lalu.

Suhu sangat tinggi, salju mencair luas, dan bunga-bunga bermekaran di tengah musim dingin yang seharusnya paling dingin.

in1

>>> Inflasi Inggris Stabil di 2,8%, Bursa Saham London Menguat

Dalam komentar yang diterbitkan di Nature Communications, tim peneliti menggambarkan pengalaman mereka sebagai 'mengejutkan dan surealis'.

James Bradley, Dosen Senior Ilmu Lingkungan, mengatakan berdiri di genangan air di kaki gletser atau di tundra hijau gundul terasa luar biasa.

Kondisi begitu hangat sehingga tim bahkan melepas kantong tidur dan sarung tangan, bekerja dengan tangan kosong—gelombang panas menurut standar Arktik.

Misi awal mereka adalah mempelajari salju yang baru turun, tetapi selama dua minggu ekspedisi, mereka hanya bisa mengumpulkan salju segar sekali.

Laura Molares Moncayo, mahasiswa PhD di Queen Mary University dan Natural History Museum, rekan penulis studi, mengatakan tujuan ekspedisi adalah mempelajari salju segar.

Namun selama dua minggu, mereka hanya bisa mengumpulkan salju segar sekali. Selebihnya, hujan turun.

Perlengkapan yang dibawa pun terasa tidak cocok. Seorang anggota tim bercanda di media sosial bahwa perlengkapan yang dikemas terasa seperti peninggalan dari iklim lain.

>>> Polsek Pinggir Tangkap Empat Pengedar Sabu di Bengkalis dan Siak

Lebih Cepat dari Prediksi Model

Meskipun tidak ada yang bertentangan dengan model iklim, menyaksikan langsung kecepatan perubahan yang memusingkan terasa meresahkan.

Ekosistem Arktik terguncang, dengan peristiwa pemanasan musim dingin yang tidak sesuai musim dapat mengganggu siklus mikroba karbon hingga kelangsungan hidup satwa liar.

Peristiwa ini dapat memicu lingkaran umpan balik: saat lapisan es mencair, mikroba mengurai lebih banyak karbon, melepaskan lebih banyak gas rumah kaca ke atmosfer—siklus yang mempercepat pemanasan Arktik.

Para peneliti kembali mendesak tindakan segera.

Mereka mendorong kebijakan proaktif, bukan sekadar reaktif, dengan mengakui bahwa musim dingin kini menjadi musim kritis dan berisiko tinggi di Arktik.

Mereka meminta investasi lebih besar dalam pemantauan musim dingin di seluruh wilayah, menyoroti kurangnya data dan pemahaman ilmiah tentang musim yang berubah cepat ini.

Dengan pemanasan enam hingga tujuh kali lipat dari kecepatan global, Arktik tidak lagi sekadar ancaman masa depan.

>>> PlayStation 5 Pro Resmi Rilis di Indonesia 20 Mei 2026, Harga Rp 15,5 Juta

Para ilmuwan mengalaminya langsung dan mendesak kita semua untuk menghadapinya sebelum yang surealis menjadi keseharian.