Objek antarbintang misterius yang melintas dekat Bumi pada Desember 2025 akhirnya teridentifikasi. Para astronom memastikan bahwa 3I/ATLAS adalah komet alami, bukan pesawat alien seperti yang sempat diperdebatkan.

Perdebatan publik dipicu oleh astrofisikawan Harvard, Avi Loeb, yang berulang kali menyebut objek itu mungkin artefak teknologi buatan.

in1

>>> Transmart Full Day Sale: Diskon Mesin Cuci Sharp Hingga Rp2 Juta

Namun, komunitas ilmu planet tetap pada pendirian bahwa penjelasan alami lebih masuk akal.

Observasi Pascaperihelion dan Aktivitas Volatil

Komet 3I/ATLAS mencapai perihelion pada 29 Oktober 2025, saat melintas di belakang Matahari.

Setelah terhalang pandangan, objek itu muncul kembali pada Desember 2025 dan diamati oleh teleskop antariksa SPHEREx milik NASA.

Observasi inframerah menunjukkan peningkatan aktivitas pascaperihelion, termasuk debu segar dan pelepasan gas volatil baru.

Perilaku ini sesuai dengan sublimasi komet standar, di mana pemanasan matahari menguapkan es di bawah permukaan.

Loeb menafsirkan citra tersebut sebagai bukti inti komet pecah menjadi setidaknya 16 bagian. Namun, ilmuwan planet lain tidak mengadopsi pandangan itu.

Evolusi ekor dan kurva cahaya tetap konsisten dengan inti tunggal yang sangat aktif.

Pada 16 Maret 2026, objek melintas di orbit Jupiter pada jarak 53,6 juta kilometer dengan struktur komet normal.

>>> Antrean Tiket Konser BTS Jakarta 2026 Hari Ketiga Tembus 1 Juta Akun

Analisis Frekuensi Radio Memastikan Outgassing Alami

Teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan mendeteksi sinyal absorpsi radio dari 3I/ATLAS pada frekuensi 1665 dan 1667 megahertz pada akhir Oktober 2025.

Frekuensi itu merupakan tanda radikal hidroksil, produk samping kimia dari penguapan molekul air.

Deteksi terjadi lima hari sebelum perihelion, dengan kekuatan sinyal yang sesuai dengan model teoretis benda kaya air yang mendekati bintang.