Para astronom radio menyimpulkan sinyal itu adalah outgassing alami, bukan transmisi buatan.

Anomali Isotop dan Lintasan Hiperbolik

Meskipun 3I/ATLAS menunjukkan beberapa sifat fisik yang tidak biasa, seperti rasio deuterium terhadap hidrogen seribu kali lebih tinggi dari komet tata surya, para ahli astrokimia menjelaskan bahwa komposisi anomali adalah hal yang wajar untuk material murni dari tempat lahir bintang asing.

in1

Objek juga memiliki ekor anti yang sempit dan terkolimasi dengan baik, membentang hampir satu juta kilometer ke arah Matahari, serta rasio isotop karbon yang aneh dalam gas karbon dioksida.

Namun, semua itu mencerminkan sidik jari kimia unik dari sistem asalnya.

Pada April 2026, 3I/ATLAS telah menempuh jarak sekitar satu miliar kilometer dari Bumi, tampak sebagai titik cahaya yang semakin redup.

>>> Sri Lanka Sambut Baik Nota Kesepahaman AS dan Iran

Bergerak dengan kecepatan 30 kilometer per detik pada lintasan hiperbolik, komet ini akan meninggalkan tata surya secara permanen pada awal 2030-an.