Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyaki memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax akan turun secara bertahap hingga akhir tahun.

Menurut Yayan, harga Pertamax yang saat ini Rp16.250 per liter pada Juni diperkirakan turun ke kisaran Rp12.100 hingga Rp13.500 per liter pada Desember 2026.

in1

>>> Penjelasan Ending Husbands in Action: Nasib Si Nae, Yeon Ju, dan Hancurnya NABI Terungkap

"Ruang penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka. Dexlite dan Pertamina Dex sudah turun," ujar Yayan saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Sabtu.

Ia merinci proyeksi harga Pertamax per liter: Juli Rp15.228, Agustus Rp14.557, September Rp14.112, Oktober Rp13.814, November Rp13.614, dan Desember Rp13.479.

Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang berangsur turun menuju 90,6 dolar AS per barel pada Desember 2026.

Selain itu, kurs rupiah diperkirakan menguat dari Rp17.927 menjadi Rp16.959 per dolar AS pada periode yang sama.

Yayan menjelaskan bahwa dinamika konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran memengaruhi harga minyak mentah dunia.

Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, lalu terkoreksi ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah rencana perjanjian damai AS-Iran.

Namun, harga Brent kembali naik di atas 80 dolar AS per barel pada Jumat (19/6) karena pembatalan perundingan AS-Iran dan serangan Israel di Lebanon.

>>> Koeman Ingatkan Belanda Waspadai Swedia di Piala Dunia 2026

Fluktuasi harga minyak mentah dunia memengaruhi ICP yang menjadi acuan harga BBM nonsubsidi. Dalam APBN 2026, asumsi makro menetapkan ICP di level 70 dolar AS per barel.