Pemerintah Indonesia masih menunggu dampak nyata dari perdamaian Selat Hormuz terhadap harga minyak mentah global sebelum menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemulihan jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz memerlukan waktu untuk tercermin di pasar.

in1

>>> Kevin Warsh Bentuk Lima Gugus Tugas Reformasi Federal Reserve

"Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz, kita baru lihat penyesuaian terhadap harga lagi.

Ini tidak otomatis, kita lihat juga implementasi perjanjian perdamaian," ujar Airlangga di Istana Kepresidenan, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, stabilitas pasokan dan proses pengiriman komoditas energi menjadi faktor penentu utama kebijakan harga domestik. "Barangnya sampai di mana, kita lihat," katanya.

Dampak Positif Perdamaian

Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menilai kesepakatan damai global berdampak positif terhadap makroekonomi. Ia berharap stabilitas harga minyak dapat memperbaiki fiskal dan perkembangan ekonomi.

Pandu juga menyoroti respons positif pasar keuangan, terlihat dari antusiasme investor terhadap penerbitan obligasi global oleh Pemerintah Indonesia.

>>> KPop Demon Hunters Raih Dua Oscar 2026, Sekuel Segera Diproduksi

"Bagus, bagus," katanya.

Sentimen positif ini dipicu oleh langkah Amerika Serikat dan Iran yang merilis teks kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik pada Rabu (17/6/2026).

Namun, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras.

"Kami akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian ini. Saya ingin mereka menghormati perjanjian tersebut," ujar Trump.

>>> Kanada vs Qatar: Perebutan Poin Penuh di Grup B Piala Dunia 2026

Saat ini, kedua negara tengah melanjutkan negosiasi untuk menyusun kesepakatan gencatan senjata permanen yang ditargetkan selesai dalam 60 hari ke depan.