Pemerintah Indonesia membuka peluang untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Kamis (18/6/2026).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa dampak perdamaian tersebut terhadap harga energi global tidak bisa langsung diterapkan pada harga BBM domestik.

in1

>>> 3 Resep Olahan Ayam Simpel untuk Menu Makan Siang Lezat

"Ya barangnya sampai di mana kan kita lihat," kata Airlangga di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Menurut Airlangga, dibukanya kembali Selat Hormuz setelah kesepakatan damai berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, namun efektivitasnya tergantung pada realisasi perjanjian.

"Ini kan tidak otomatis (harga minyak dunia turun), kita lihat juga implementasi daripada perjanjian perdamaian," ujarnya.

>>> Kenali Pemicu dan Sinyal Awal Migrain agar Serangan Bisa Dicegah

Pasar energi global merespons positif kesepakatan tersebut dengan melemahnya harga minyak dunia pada perdagangan Kamis (18/6/2026) malam ke level terendah sejak konflik pecah.

Berdasarkan data Oilprice, minyak WTI turun 3,89 persen ke posisi US$ 73,94 per barel, sementara Brent turun 3,27 persen ke level US$ 76,95 per barel.

Situasi ini menjadi sorotan setelah PT Pertamina Patra Niaga sebelumnya menaikkan harga BBM nonsubsidi pada 10 Juni 2026 akibat lonjakan harga minyak global.

>>> Declan Rice Puji Riccardo Calafiori Usai Inggris Tekuk Kroasia

Saat itu, harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter, dan Pertamax Turbo melonjak hingga Rp20.750 per liter.