Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa.

Serangan nyeri berdenyut di satu sisi kepala ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, dan sering kali didahului oleh sinyal peringatan.

in1

>>> Declan Rice Puji Riccardo Calafiori Usai Inggris Tekuk Kroasia

Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif RSUI, dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp. N(K), menjelaskan bahwa setiap penderita migrain memiliki pemicu yang berbeda-beda.

“Yang paling sering itu misalnya kelelahan, banyak aktivitas fisik yang melelahkan,” kata Sena, sapaan akrabnya, di Jakarta, Jumat.

Selain kelelahan, kurang istirahat atau kualitas tidur yang buruk juga menjadi pemicu umum. Stres psikis dan tekanan emosional turut berperan.

Pada perempuan, perubahan hormonal menjelang atau selama menstruasi sering memicu migrain. Faktor makanan juga bisa menjadi pencetus, meski tidak sama pada setiap orang.

>>> Google Earth Luncurkan Flight Simulator Gratis di Browser

“Makanan yang pernah dilaporkan misalnya cokelat atau yang mengandung MSG dan pengawet,” tutur Sena.

Kenali Sinyal Awal Sebelum Serangan

Setelah terpapar pemicu, penderita bisa merasakan gejala awal seperti badan tidak nyaman, lelah, atau capek. Kondisi ini biasanya muncul beberapa jam sebelum serangan.

Sayangnya, tidak semua penderita menyadari sinyal tersebut. Sebagian juga mengalami aura, yaitu gejala spesifik yang terjadi sekitar 60 menit sebelum nyeri kepala.

Aura bisa berupa kilatan cahaya, distorsi penglihatan (benda jauh terlihat dekat), atau bahkan kesulitan bicara. “Petunjuk itu sebenarnya ada, tapi kadang pasien menyadari kadang enggak,” ujar Sena.

>>> Mengenal Sejarah Hari Buruh Internasional yang Diperingati Setiap 1 Mei

Migrain sendiri berlangsung antara 4 hingga 72 jam, dengan intensitas sedang hingga berat yang dapat mengganggu aktivitas. “Bukan yang terus-menerus sampai sebulan,” imbuhnya.