Kesadaran masyarakat terhadap bahaya gangguan kepala kronis terus menjadi perhatian berbagai pihak.

Sebuah kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan gratis digelar di Superhouse Paskal, Bandung, pada Minggu, 14 Juni 2026.

>>> Inovasi Karbon Nanotube Bisa Ubah Jaringan Listrik Selamanya

Acara yang bertepatan dengan Bulan Kesadaran Migrain Sedunia ini diikuti ratusan warga Kelurahan Pasir Kaliki.

Narasumber medis dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta menjelaskan bahwa migrain merupakan jenis gangguan neurologis.

Kondisi ini ditandai nyeri kepala berdenyut pada satu sisi, sering disertai mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara.

Serangan dapat berlangsung beberapa jam hingga hitungan hari akibat berbagai faktor pemicu.

Faktor pemicu yang perlu diwaspadai meliputi stres, kurang tidur, perubahan hormon, dan pola makan tidak teratur. "Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa.

Kondisi ini merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling sering menyebabkan penurunan kualitas hidup," ujar dr Ivana Lola.

Dokter Ivana Lola menambahkan bahwa kerentanan terhadap migrain meningkat saat seseorang menginjak usia 40 tahun.

Hal ini dipicu fluktuasi hormon menjelang perimenopause pada perempuan, tekanan stres, pola tidur buruk, serta penyakit penyerta seperti hipertensi dan kecemasan.

Masyarakat diimbau tidak menyepelekan gejala sakit kepala berat yang baru muncul setelah usia 40 tahun. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

>>> Ilmuwan Temukan Kuburan Paus Purba Raksasa di Samudra Hindia

Pola Makan dan Pencegahan Migrain

Pengaturan konsumsi makanan memegang peran penting dalam memicu atau mencegah serangan migrain.

Beberapa asupan yang perlu dibatasi meliputi makanan olahan tinggi MSG, sosis, kornet, keju fermentasi, cokelat, kafein berlebih, alkohol, dan pemanis buatan.

Sebaliknya, konsumsi sayur, buah segar, kacang-kacangan, biji-bijian, air yang cukup, serta ikan kaya omega-3 seperti salmon dan tuna sangat disarankan.