Sementara itu, tanaman hortikultura dinilai relatif lebih mudah dikelola dari sisi kebutuhan air melalui pompanisasi.

>>> Amar Bank Catat Pertumbuhan Kredit Digital 30,62% di Tengah Persaingan Ketat

in1

Namun, komoditas tersebut tetap menghadapi risiko peningkatan serangan hama dan penyakit selama musim kemarau.

Eliza menilai pemerintah perlu memperkuat kombinasi kebijakan antara penyediaan benih unggul, penyuluhan, pengelolaan air, serta respons cepat terhadap gangguan hama dan penyakit.

Menurut dia, target produksi pangan nasional masih dapat tercapai apabila mitigasi dilakukan secara efektif dan efisien melalui bauran kebijakan yang tepat.

Ia mencontohkan China pada saat El Nino 2023 tetap mampu mencatat peningkatan produksi meskipun luas panennya menurun karena didukung peningkatan produktivitas serta manajemen lahan dan pengendalian hama penyakit yang responsif.

“Target produksi masih bisa tercapai asalkan mitigasinya dilakukan secara efektif dan efisien. Jadi ini semua tergantung bauran kebijakan yang diambil,” ungkapnya.

Eliza menambahkan, kebijakan menghadapi El Nino tidak cukup hanya bertumpu pada satu instrumen, melainkan perlu menggabungkan kesiapan benih, pengelolaan air, penyuluhan, dan manajemen lahan agar produksi pangan tetap terjaga.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menyatakan penggunaan varietas unggul adaptif menjadi salah satu strategi untuk menjaga produksi pangan di tengah ancaman kemarau dan perubahan iklim.

Menurut Amran, petani dapat memanfaatkan varietas genjah dan toleran kekeringan seperti kelompok Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, dan Cakrabuana untuk menjaga produksi selama musim kemarau.

Pemerintah juga mendorong penggunaan varietas berumur pendek, teknologi hemat air, serta pengaturan pola tanam yang lebih efisien untuk mengurangi dampak El Nino terhadap sektor pertanian.

>>> Arsenal vs Coventry City Buka Liga Inggris 2026/2027

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan percepatan tanam terus didorong dengan mengupayakan jarak antara panen dan tanam kembali tidak lebih dari 14 hari guna meningkatkan indeks pertanaman dan produksi pangan.