>>> BI Catat Fasilitas Pinjaman Belum Digunakan Rp2.576 Triliun per Mei 2026

Allo Bank dan Amar Bank Andalkan Engagement

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menyebutkan bahwa penghimpunan dana murah sangat dipengaruhi oleh tingkat keterikatan (engagement) nasabah pada aplikasi layanan.

in1

Menurutnya, CASA bukan semata-mata fungsi dari suku bunga, melainkan hasil dari frekuensi transaksi dan relevansi layanan.

Destya membenarkan adanya sebagian nasabah yang mulai melirik deposito saat suku bunga dinilai menarik, namun dinamika tersebut masih dalam kategori normal.

Tantangan utama saat ini adalah memberikan alasan kuat bagi nasabah untuk menjadikan Allo Bank sebagai rekening bertransaksi utama.

Oleh sebab itu, Allo Bank memfokuskan strategi pada perluasan fitur transaksi digital seperti QRIS, transfer, serta pembayaran tagihan, bukan pada kompetisi suku bunga.

Allo Bank mengklaim biaya dana mereka masih terkendali dengan baik.

PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) juga memanfaatkan penguatan ekosistem digital dalam menghimpun CASA.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Amar Bank Kevin Kane Wardhana menilai keputusan nasabah kini turut dipengaruhi pengalaman pengguna.

Amar Bank terus menyasar segmen ritel, UMKM, hingga korporasi melalui inovasi pada aplikasi Amar Bank dan Amar Bank Bisnis.

Kevin mengakui kenaikan BI Rate memicu perbankan lain menawarkan bunga simpanan tinggi, namun kualitas layanan tetap menjadi pertimbangan penting.

Hingga kini, rasio simpanan di Amar Bank dilaporkan stabil tanpa adanya migrasi dana yang signifikan dari produk tabungan atau giro ke deposito.

>>> Peruri Dorong Talenta Digital dengan Kemampuan Analitis dan Berpikir Kritis

Dari sisi biaya dana, Amar Bank mencatat dampak fluktuasi suku bunga masih dalam tingkatan yang relatif terbatas dan stabil.