PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengubah pendekatan bisnis pendanaan di tengah persaingan ketat menghimpun dana pihak ketiga pada era suku bunga tinggi.

BRI memilih memperbesar transaksi nasabah melalui ekosistem digital dan penguatan posisi sebagai bank transaksional, alih-alih mengandalkan perang suku bunga.

in1

>>> Indomaret Pangkas Harga Sabun Mandi Cair dan Batang hingga 13 Mei 2026

Langkah ini menjadi krusial saat industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas dan kenaikan biaya dana.

BRI menilai kemampuan menciptakan aktivitas transaksi tinggi akan menjadi faktor pembeda dibanding menawarkan bunga simpanan agresif.

Strategi tersebut memungkinkan BRI menjaga daya saing suku bunga saat pasar keuangan domestik memasuki era suku bunga tinggi seiring kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia.

Bank Indonesia baru saja menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Kamis (18/6/2026), sehingga total kenaikan mencapai 100 bps dalam dua bulan terakhir.

Transformasi Digital sebagai Mesin Utama

SEVP Transaction and Retail Funding BRI Trilaksito Singgih menjelaskan bahwa penguatan bisnis pendanaan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi perusahaan.

Fokusnya diarahkan pada pembangunan BRI sebagai transaction bank yang mampu menjadi pusat aktivitas keuangan nasabah.

Pendekatan tersebut mulai tercermin pada pertumbuhan tabungan yang berada di atas rata-rata pasar.

Pada kuartal I/2026, BRI mencatat pertumbuhan tabungan sekitar 11,5% year-on-year menjadi Rp543,3 triliun, lebih tinggi dari pertumbuhan industri di kisaran 8% YoY.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui aplikasi BRImo dan berbagai layanan digital lainnya.

Menurut Trilaksito Singgih, pertumbuhan dana tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan bank menarik simpanan baru, melainkan dari aktivitas transaksi yang menciptakan dana mengendap stabil.