Pemerintah Israel secara sepihak mengambil alih wewenang perencanaan dan pembangunan di kawasan yang mencakup Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat.

Langkah ini diumumkan oleh Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang menyatakan bahwa sejumlah poin dalam Perjanjian Hebron 1997 telah dihapus.

in1

>>> 12 Negara Asia Paling Jago Bahasa Inggris, Indonesia Nomor Berapa?

Perjanjian Hebron sebelumnya memberikan hak pengelolaan sipil kepada Dewan Kota Palestina. Dengan penghapusan ini, Israel kini menguasai penuh perencanaan di situs yang menjadi pusat sensitivitas dalam konflik Palestina-Israel.

Sejarah Panjang Masjid Ibrahimi

Masjid Ibrahimi memiliki sejarah panjang yang terkait dengan pergantian kekuasaan dan dinamika akses ibadah.

Pada masa Bizantium, kompleks ini awalnya merupakan basilika Kristen sebelum dialihfungsikan menjadi masjid pada abad ke-7 setelah wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Islam.

Fungsi sebagai tempat ibadah Muslim bertahan selama berabad-abad, meskipun sempat berubah pada periode Perang Salib.

Titik balik terjadi pada tahun 1967 ketika Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Setelah pendudukan, sebuah sinagoge didirikan di dalam kompleks masjid, diikuti pembangunan permukiman Kiryat Arba di sekitar Kota Tua.

Kehadiran permukiman dan militer memicu gesekan fisik serta penyerbuan ke area suci umat Islam.

Ketegangan meningkat sejak tahun 1972 ketika aktivitas ibadah Yahudi mulai dilakukan di dalam masjid, meskipun mendapat penolakan keras dari warga setempat.

Tragedi 1994 dan Pembagian Area Ibadah

Puncak kekerasan terjadi pada 25 Februari 1994, bertepatan dengan hari ke-15 Ramadan.

Seorang pemukim Israel dari Kiryat Arba melepaskan tembakan ke arah jemaah yang sedang salat Subuh, menewaskan 29 warga Palestina dan melukai lebih dari 125 orang.