Indonesia berupaya mendatangkan investasi global untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.

Target ini tertuang dalam Perpres No. 12/2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

in1

>>> Pengadilan Korea Selatan Hukum Pembuat Video Deepfake aespa 2,5 Tahun Penjara

Selama periode tersebut, dibutuhkan investasi sebesar Rp47.573,45 triliun. Sumbernya berasal dari investasi pemerintah, BUMN, swasta termasuk global, dan masyarakat.

Namun, ada fenomena yang dikhawatirkan dapat mengganggu pencapaian target investasi.

Tren nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus menurun dan penurunan IHSG sejak akhir Januari 2026 menjadi perhatian.

Aksi investor global menarik modal (capital outflow) sering diikuti panic selling oleh investor lokal. Hal ini perlu segera diatasi agar tidak mengganggu RPJMN.

Pengaruh MSCI dan Pentingnya Transparansi

Pada akhir Januari 2026, IHSG turun tajam sebagai respons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI adalah lembaga penyedia indeks saham global yang memengaruhi pasar modal Indonesia.

Ada usulan agar pasar saham Indonesia membentuk indeks global sendiri. Namun, BEI sudah memiliki indeks seperti LQ45, IDX30, dan IDX80, meski masih perlu pengembangan.

Transparansi menjadi fondasi kepercayaan investor. Otoritas pasar modal Indonesia telah mempublikasikan emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC).

Pada 12 Mei 2026, MSCI melakukan rebalancing indeks. Enam emiten Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes dan 13 saham dari MSCI Small Cap Indexes.

>>> Menteri PPPA: UPTD PPA Wujud Nyata Negara Hadir Tangani Kekerasan Perempuan dan Anak

Langkah Pembenahan Pasar Modal

Pertama, otoritas pasar modal harus terus mengembangkan mekanisme transparansi melalui perbaikan regulasi dan sistem pengawasan. Sistem pengawasan harus konsisten dijalankan.