Suzuki Satria varian standar masih menjadi primadona di segmen motor bebek sport.

Meskipun varian tertinggi Satria Pro telah meluncur sejak akhir 2025, permintaan terhadap model lama tetap lebih tinggi.

in1

>>> Panduan Memilih Reksadana Sesuai Profil Risiko untuk Investor

Kepala Cabang Suzuki Motor Sunter ISG, Deddy Priambada, mengonfirmasi dominasi tersebut. Ia menyebutkan bahwa data penjualan menunjukkan minat konsumen lebih besar pada Satria standar.

"Permintaan lebih banyak yang tipe standar, yang tampilan Satria lama. Nah, itu lebih dominan, lebih banyak yang itu (penjualannya)," ujar Deddy.

Menurut Deddy, komposisi penjualan antara Satria standar dan Pro adalah 75 persen berbanding 25 persen. Artinya, untuk setiap empat unit yang terjual, tiga di antaranya adalah varian standar.

Faktor loyalitas konsumen terhadap desain lama menjadi alasan utama. Banyak penggemar yang sudah terbiasa dengan tampilan Satria yang konsisten selama bertahun-tahun.

>>> Kemenkes dan BPOM Soroti Risiko Hidden Sugar Penyebab Diabetes

Di sisi lain, varian Satria Pro yang dibanderol Rp 31,3 juta atau lebih mahal Rp 3,9 juta dari versi standar, menawarkan fitur modern seperti rem ABS, keyless, Suzuki Ride Connect, dan port USB.

Namun, perubahan desain depan yang disebut mirip gaya India menuai kritik di media sosial.

Meski berbeda fitur, kedua varian menggunakan mesin yang sama, yaitu overbore 147,3 cc DOHC pendingin cairan dengan tenaga 18,1 hp dan torsi 13,8 Nm.

>>> Imigrasi Belawan Deportasi Tujuh WNA karena Langgar Aturan Keimigrasian

Keduanya juga tidak lagi dilengkapi kick starter dan hanya mengandalkan electric starter dengan Easy Start System.