Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencana pemerintah untuk menerbitkan Panda Bonds di pasar keuangan China.

Penerbitan surat utang ini ditargetkan senilai setara 1 miliar dolar AS sebagai bagian dari strategi memperkuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

in1

>>> Memetik Hikmah Sejarah 10 Muharram untuk Meningkatkan Ketakwaan

Langkah ini bertujuan untuk menekan ketergantungan pada pendanaan berbasis dolar AS dan membuka sumber pembiayaan alternatif.

Apa Itu Panda Bonds?

Panda Bonds adalah surat utang atau obligasi berdenominasi yuan (renminbi) yang diterbitkan oleh pihak asing di pasar domestik China.

Penerbitnya bisa berupa pemerintah negara lain, lembaga internasional, atau korporasi asing.

Melalui instrumen ini, pemerintah Indonesia akan meminjam dana langsung dari investor di China dengan seluruh transaksi menggunakan mata uang yuan.

Penamaan Panda Bonds merujuk pada panda, simbol nasional China, serupa dengan Samurai Bonds di Jepang atau Yankee Bonds di Amerika Serikat.

Alasan Strategis Penerbitan

Menteri Keuangan memaparkan tiga alasan utama di balik kebijakan ini.

Pertama, diversifikasi sumber pembiayaan anggaran agar tidak bergantung pada satu mata uang.

>>> Ricky Perdana Hadiahi Chaca Thakya Perhiasan dari ASI

Kedua, efisiensi biaya pinjaman karena yield Panda Bonds diperkirakan rendah, yakni 2,3% hingga 2,5%.

Ketiga, besarnya basis investor di pasar keuangan China yang dapat menjadi ceruk pendanaan baru.

Kehadiran instrumen ini diharapkan mampu menekan biaya bunga utang dan memperluas basis investor internasional.

Target Realisasi Penerbitan

Pemerintah menargetkan penerbitan perdana Panda Bonds Indonesia dapat terlaksana pada Juni 2026.

Untuk mematangkan proses, Menteri Keuangan Purbaya dijadwalkan melakukan kunjungan kerja ke China.

Agenda kunjungan tersebut meliputi pertemuan dengan calon investor dan penyelesaian persiapan teknis.

>>> Pedro Acosta: Peran Insinyur Makin Dominan di MotoGP

Jika terealisasi, Indonesia akan bergabung dengan negara-negara lain yang telah memanfaatkan pasar obligasi China.