Badan Pengelola Masjid Istiqlal menerbitkan teks khutbah Jumat bertema spirit hijrah. Materi ini dapat dibacakan saat ibadah salat Jumat dalam rangka menyambut tahun baru Hijriah 1445 H.

Khutbah tersebut bersumber dari buku Mimbar Jumat Edisi 1223 Tahun XXV/2023. Teks disusun oleh Moch.

in1

>>> 7 Rekomendasi Buku Tulis Sekolah Anak yang Bagus dan Awet

Taufiqurrahman, SQ, MA, yang menjabat sebagai Direktur Madrasah Istiqlal Jakarta.

Makna Hijrah dalam Islam

Tahun baru Hijriah merupakan sistem penanggalan Islam yang berlandaskan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Khalifah Umar bin Khattab menjadi tokoh penting dalam penetapan awal kalender Hijriah.

Peristiwa hijrah terjadi pada 2 Juli 622 M bertepatan dengan 12 Rabiulawal.

Hijrah ke Madinah bukan hijrah pertama umat Islam, karena sebelumnya sekelompok muslim telah hijrah ke Habasyah (Ethiopia).

Masa kenabian terbagi menjadi dua fase, yaitu periode Makkah dan Madinah. Pada periode Makkah, Nabi membawa perubahan mendasar pada aspek akidah dengan mengganti pola kemusyrikan dengan tauhid.

Selama tiga belas tahun, Nabi berdakwah di Makkah dalam tekanan dan ancaman. Hijrah ke Madinah menjadi titik perubahan besar yang membebaskan umat Islam dari penindasan.

Umat Islam yang berhijrah dari Makkah disebut Muhajirin, sedangkan kaum muslim Madinah yang memberi pertolongan disebut Anshar. Di Madinah, umat Islam mulai memiliki posisi kepemimpinan dan kendali sosial-politik.

Pada fase Madinah, Nabi melakukan pembaruan dalam kehidupan umat, termasuk reformasi sosial dan pembinaan masyarakat. Fanatisme kesukuan digantikan dengan nilai kemanusiaan yang lebih inklusif.

Spirit Hijrah Menuju Perubahan

Ragib Al-Isfahani, pakar leksikografi al-Quran, menyebut hijrah memiliki tiga pengertian. Pertama, meninggalkan negeri yang tidak bersahabat menuju negeri yang aman.