Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan akan terus memperkuat kualitas transparansi pasar dan identifikasi coordinated trading guna meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia.

Langkah ini merupakan respons terhadap hasil market accessibility review MSCI yang diumumkan pada Jumat (19/6) pagi.

in1

>>> GAPKI: DMO Minyakita Bisa Dialihkan ke PT Danantara Jika Kuasai Ekspor

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyatakan bahwa secara umum mayoritas aspek aksesibilitas pasar Indonesia tetap terjaga.

Namun, terdapat catatan untuk arah perbaikan pasar modal ke depan.

Dari lima segmen Market Accessibility yang terdiri dari 18 kriteria, hasil asesmen MSCI masih sama dengan tahun sebelumnya kecuali satu kriteria, yaitu Information Flow di segmen Market Infrastructure.

Sebanyak 10 dari 18 kriteria dinilai “++” (double plus) yang menunjukkan sudah sesuai best practice global. Enam kriteria masih dinilai “+” (single plus) yang diharapkan terus ada improvement.

Sementara itu, kriteria Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization Level dinilai “-” (negatif) yang menunjukkan adanya concern untuk perbaikan.

Hasan menegaskan bahwa OJK memandang masukan MSCI sebagai bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi pasar modal.

Reformasi tersebut dijalankan bersama oleh OJK, Bursa Efek Indonesia, KSEI, KPEI, serta seluruh pelaku industri.

OJK mencatat adanya pengakuan MSCI atas sejumlah perbaikan yang telah dilakukan Indonesia, termasuk berkurangnya catatan mengenai Foreign Exchange Market Liberalization Level.

Meski demikian, hasil asesmen masih sama dengan tahun lalu, yaitu butuh improvement.

Sebagai langkah tindak lanjut, OJK terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas terkait seperti Bank Indonesia.

Hal ini dilakukan untuk memastikan perbaikan ke depan dengan tetap memperhatikan mitigasi risiko dan kebijakan makroprudensial nasional guna mencegah volatilitas pasar.