Wakil Presiden Amerika Serikat J. D.

Vance mengatakan bahwa penanganan soal Kuba saat ini masih dalam diskusi dan menjadi kewenangan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

in1

>>> Volkswagen Bakal PHK 50.000 Karyawan hingga 2030

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam konferensi pers pada Kamis (18/6). Ia menegaskan bahwa AS menginginkan rakyat Kuba bahagia dan sukses.

"Kami sebenarnya sedang berdiskusi dengan Pemerintah Kuba saat ini tentang bagaimana mereka bisa mengubah cara mereka agar hal itu terwujud," ujar Vance.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya setelah masalah Iran terselesaikan. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Tekanan AS terhadap Kuba

Pada akhir Mei, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez menuding Rubio sebagai dalang utama di balik tekanan AS terhadap negaranya.

Pada Januari lalu, AS memberlakukan bea masuk atas impor dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba. AS juga mengumumkan keadaan darurat akibat dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional.

>>> A.M. Hendropriyono Ingatkan Waspada Adu Domba Sesama Anak Bangsa

Kuba menilai langkah tersebut sebagai upaya AS untuk mencekik perekonomiannya melalui embargo energi. Kondisi ini memperburuk kehidupan warga Kuba.

Kelangkaan bahan bakar di Kuba semakin parah, berdampak pada pembangkit listrik, transportasi, produksi pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Pada pertengahan Mei, Departemen Kehakiman AS mendakwa Raul Castro dan lima perwira militer Kuba atas penembakan dua pesawat pada 1996.

Pesawat tersebut terkait kelompok pengasingan Brothers to the Rescue yang berbasis di Miami.

Kuba menyebut tuduhan itu sebagai provokasi politik.

>>> PLN Batasi Durasi Pemadaman Listrik Maksimal Delapan Jam

Pemerintah Kuba menegaskan tindakan mereka adalah pembelaan diri setelah pelanggaran wilayah udara berulang kali oleh pesawat kelompok tersebut.