PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terus memperluas portofolio bisnis untuk mendorong pertumbuhan kinerja. Langkah ini sejalan dengan transformasi strategis yang mulai menunjukkan hasil optimal.

Produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia ini mendapat dukungan dari Grup Barito Pacific. Perusahaan juga bermitra strategis dengan SCG Chemicals sejak 2011 dan Thai Oil mulai 2021.

in1

>>> Penjualan Mobil Listrik Indonesia Melonjak 80 Persen Awal 2026

TPIA bertransformasi dari entitas yang bergantung pada satu aset cracker senilai US$ 1,8 miliar dengan margin negatif sepanjang 2022-2024.

Kini, perseroan berkembang menjadi platform bisnis berpendapatan US$ 7-10 miliar di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.

Emiten berkode saham TPIA ini memperoleh tambahan pendapatan lewat bisnis ritel serta pabrik chlor alkali-ethylene dichloride (CA-EDC).

Pembentukan lini bisnis energi baru ditandai dengan penuntasan akuisisi aset Shell Singapore melalui entitas Aster pada 2025.

Aksi korporasi tersebut mencakup fasilitas kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari (kbpd) dan kompleks cracker berkapasitas 1,1 juta ton per tahun (Mtpa).

"Langkah ini mengurangi ketergantungan TPIA terhadap bisnis petrokimia yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan margin akibat kelebihan kapasitas produksi di China.

Saat ini, segmen energi telah menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi TPIA dengan porsi 55% terhadap pendapatan kuartal I-2026," tulis analis Verdhana Sekuritas Indonesia, Michael Wildon Ng dan Nizam Syafik dalam risetnya.

TPIA juga merampungkan pembelian jaringan ritel bahan bakar Esso untuk menciptakan integrasi menyeluruh dari pengilangan hingga distribusi hulu ke hilir.

Sinergi ini diharapkan mampu mengoptimalkan nilai di sepanjang rantai pasok perusahaan.

Proyek CA-EDC senilai US$ 800 juta di Cilegon menjadi motor pertumbuhan baru berikutnya.