Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggelar rapat terbatas bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta pada Kamis (18/6/2026).

Pertemuan itu membahas dua agenda utama, yaitu pembayaran subsidi PT PLN (Persero) dan persiapan implementasi biodiesel B50.

>>> AIIB Kucurkan Rp303 Triliun untuk Proyek Infrastruktur Indonesia

Bahlil menekankan pentingnya menjaga keandalan pasokan listrik serta mematangkan program energi terbarukan.

Subsidi PLN dan Pasokan Batu Bara

Pemerintah memastikan kondisi keuangan PLN tetap sehat agar pelayanan listrik kepada masyarakat berjalan maksimal.

Bahlil menyatakan bahwa pembayaran kompensasi dan subsidi menjadi fokus agar PLN memiliki kemampuan keuangan yang memadai.

Pasokan batu bara untuk pembangkit listrik nasional juga dipastikan aman. Kebutuhan batu bara PLN pada 2026 mencapai sekitar 154 juta ton.

Dari jumlah tersebut, kontrak yang sudah diamankan mencapai 134 juta ton. Sisa kebutuhan yang belum terpenuhi hanya sekitar 18 juta hingga 20 juta ton.

"Jadi tinggal kurang lebih sekitar 18 juta sampai 20 juta ton yang belum. Jadi secara overall tidak ada masalah," ujar Bahlil.

>>> Smart Tag Jadi Pelacak Cadangan Mobil yang Praktis dan Murah

Persiapan Biodiesel B50

Rapat koordinasi juga membahas persiapan program biodiesel B50 yang dijadwalkan meluncur pada 1 Juli 2026.

Tim Kementerian ESDM telah menguji coba varian B50 pada berbagai moda transportasi, seperti kereta api, kapal, kendaraan tambang, ekskavator, dan alat pertanian.

Hasil pengujian menunjukkan performa yang menjanjikan dengan kadar air B50 lebih rendah dibandingkan campuran biodiesel B40 saat ini.

Implementasi kebijakan ini ditargetkan mampu menekan angka impor bahan bakar minyak nasional secara signifikan.

"Insya Allah kami sangat optimistis implementasi launching daripada B50 itu akan dilakukan nanti pada 1 Juli 2026.

>>> Dispora Batam Bekali Pemuda dengan Pelatihan Digital Marketing

Dengan demikian maka kita akan mengurangi atau bahkan tidak lagi melakukan impor solar," kata Bahlil.