PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berhasil mencatat lonjakan pendapatan signifikan setelah merampungkan akuisisi strategis Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP), yang kini bernama Aster.

Aksi korporasi ini menjadi titik balik bagi perseroan.

in1

>>> Cristiano Ronaldo Samai Rekor Enam Piala Dunia Milik Lionel Messi

Chandra Asri melepaskan ketergantungan pada siklus industri petrokimia yang fluktuatif dan bertransformasi menjadi kekuatan baru di sektor energi, kimia, dan infrastruktur regional yang terintegrasi.

Transformasi Bisnis dan Kinerja Keuangan

Analis Verdhana Sekuritas Nizam Syafik menyebut transformasi tiga tahun terakhir mengubah peta kekuatan finansial perusahaan secara drastis.

Chandra Asri memutasi portofolio dari pengelola aset petrokimia tunggal senilai US$ 1,8 miliar yang sempat tertekan margin negatif pada 2022–2024, menjadi platform bisnis dengan proyeksi pendapatan US$ 7 miliar hingga US$ 10 miliar.

Fondasi lompatan ini adalah tuntasnya akuisisi Aster pada 2025.

Aster membekali perusahaan dengan kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari dan fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun.

"Aster secara efektif mendiversifikasi sumber pendapatan Chandra Asri yang sebelumnya sangat bergantung pada spread petrokimia. Saat ini energi telah menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan," ujar Nizam.

Pada kuartal I-2026, segmen energi mendominasi dengan menyumbang 55% dari total pendapatan konsolidasi, melampaui segmen kimia (42%) dan infrastruktur (3%).

Lonjakan kinerja keuangan ditandai dengan laba operasi (EBIT) tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 468 juta dan laba bersih US$ 205 juta pada tiga bulan pertama 2026.

Aster dibeli melalui CAPGC, perusahaan patungan bersama Glencore, dengan harga investasi US$ 255 juta.

>>> Harga Beras Semester II/2026 Diprediksi Tetap Tinggi Akibat Faktor Domestik