Pembukaan kembali Selat Hormuz diproyeksikan menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik Indonesia.

Normalisasi arus minyak di jalur energi krusial ini diperkirakan mampu menstabilkan pasokan global dan memperkuat nilai tukar rupiah.

in1

>>> Gejolak batin ibu yang tak terungkap dalam film "Cerita Lila"

Analis Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim, menyatakan bahwa pemulihan jalur tersebut akan memangkas beban fiskal dan inflasi nasional.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz dan penurunan premi risiko geopolitik memperbaiki prospek sektor domestik Indonesia melalui penurunan harga energi, penguatan rupiah, dan berkurangnya tekanan fiskal," tulisnya.

Indonesia, sebagai negara pengimpor energi, mendatangkan sekitar 362.000 barel minyak mentah per hari pada 2025. Penurunan harga minyak dunia akibat normalisasi pasokan memberikan keuntungan bagi perekonomian domestik.

>>> Kanada Hancurkan Qatar 4-0 dengan Dua Kartu Merah dan Cedera Parah

Sektor yang Paling Diuntungkan

Sektor domestik siklikal dan sensitif suku bunga diprediksi menjadi yang paling diuntungkan. Perbankan, properti, konsumer, ritel, infrastruktur, dan utilitas disebut sebagai bidang yang akan merasakan dampak positif.

Di sisi lain, sektor minyak dan gas seperti emiten MEDC diperkirakan mengalami penurunan pendapatan akibat normalisasi harga. Sementara itu, sektor tambang logam diprediksi bergerak netral.

>>> Serangan DDoS di Indonesia Melonjak 62 Persen pada Kuartal I-2026

Pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi menurunkan premi risiko geopolitik dan menstabilkan harga energi global. Hal ini diharapkan dapat menyokong ekonomi domestik secara keseluruhan.