CEO baru Toyota, Kenta Kon, secara terbuka mengakui bahwa perusahaannya saat ini memiliki terlalu banyak model mobil.

Ia berencana mengatasi kondisi tersebut dan mengubah Toyota menjadi produsen otomotif yang lebih ramping serta lebih menguntungkan.

in1

>>> Manchester United Harapkan Marcus Rashford Kembali ke Carrington Usai Piala Dunia 2026

"Jika Anda mengunjungi divisi pengembangan, Anda akan melihat masalah seperti semakin banyaknya spesifikasi dan varian berbeda yang dibuat, yang pada akhirnya mendorong kenaikan biaya," kata Kon dikutip dari Carscoops, Jumat waktu setempat.

Jajaran produk Toyota terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir.

Kini perusahaan menawarkan jumlah varian yang sangat banyak, misalnya 12 versi untuk model 4Runner dan 10 varian untuk Grand Highlander.

Meski beragam pilihan sering dianggap sebagai nilai tambah, Kon mengisyaratkan perlunya meninjau kembali produk-produk yang tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap keuntungan.

Langkah ini merupakan bagian dari evaluasi yang lebih luas, dan semua opsi masih terbuka untuk ditinjau.

Sejak program restrukturisasi diumumkan pada Mei lalu, Toyota telah membatalkan rencana menghadirkan versi produksi dari konsep Lexus LF-ZC.

Sedan listrik yang sebelumnya dikabarkan akan meluncur pada 2027 itu dibatalkan karena berbagai pertimbangan, termasuk perkiraan permintaan pasar yang rendah.

Meski masih terlalu dini untuk mengetahui model apa saja yang akan dihentikan, tidak sulit menyusun daftar kandidat yang berpotensi terkena pemangkasan.

Toyota Mirai misalnya, saat ini dinilai lebih sebagai proyek prestise dibanding produk yang sukses secara komersial. Tahun lalu, Toyota hanya menjual 210 unit Mirai di AS.

>>> Pratinjau AS vs Australia: Duel Transisi Cepat dan Ketajaman Penyerang

Sebagai perbandingan, diler Toyota berhasil menjual 576 unit Toyota GR86 hanya dalam satu bulan, yakni Desember.