Penyakit ginjal kronis sering disebut sebagai pembunuh senyap karena kerusakannya terjadi tanpa peringatan medis yang dramatis. Kondisi ini rentan menyerang pasien diabetes dan hipertensi.

Banyak pasien mengabaikan kondisi ini karena tidak merasakan nyeri pada tubuh. Padahal, kadar gula darah dan tekanan darah yang tidak terkendali perlahan merusak saringan halus di dalam ginjal.

in1

>>> Saham BCA Terkoreksi, Asing Catat Net Sell Rp 51 Miliar

Menurut data National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), diabetes dan hipertensi menjadi pemicu utama kasus gagal ginjal di dunia.

"Masalah ginjal bisa tanpa gejala hingga tahap akhir proses penyakit.

Inilah sebabnya mengapa penting bagi siapa pun yang menderita salah satu penyakit ini untuk memantau diri mereka sendiri," ujar Dr Reetesh Sharma, Ketua Nefrologi dan Transplantasi Ginjal dari Rumah Sakit Spesialisasi Super Yatharth, India.

4 Gejala yang Sering Diabaikan

Berikut adalah beberapa alarm bahaya dari tubuh yang sering kali dianggap sepele oleh penderita diabetes dan hipertensi.

1. Pembengkakan di Kaki atau Kantung Mata.

Penumpukan cairan di area ini kerap dikira sebagai efek penuaan, kelelahan, atau konsumsi garam berlebih. Namun, gejala ini dapat menandakan fungsi ginjal mulai menurun.

"Ginjal yang rusak tidak seefektif dalam membuang cairan berlebih dari tubuh melalui urinasi, dan dapat menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh," jelas Dr Sharma.

Pemeriksaan medis perlu segera dilakukan jika karet kaus kaki meninggalkan bekas mendalam di kulit, sepatu terasa sempit, atau wajah tampak sembap di pagi hari.

2. Perubahan Pola dan Kondisi Urine.

Perubahan pada kebiasaan buang air kecil menjadi indikator langsung dari kondisi kesehatan ginjal. Kerusakan organ ini dapat memicu urine berbusa, keruh, atau bercampur darah.