Urine berperan penting dalam membuang limbah metabolisme dan kelebihan air dari tubuh.

Namun, fluktuasi kadar protein, gula, dan sel darah dapat memengaruhi penampakan urine hingga warnanya berubah menjadi lebih gelap.

>>> 21 Ide Ice Breaking MPLS 2026 untuk SD, SMP, SMA yang Seru dan Interaktif

Perubahan pada warna air seni tersebut kadang menjadi indikasi bahwa organ ginjal tidak lagi berfungsi secara optimal. Kriteria warna tertentu perlu diwaspadai sebagai tanda adanya gangguan kesehatan.

Warna Kuning Jernih hingga Gelap

Warna kuning jernih menandakan tubuh telah mendapatkan asupan cairan yang cukup. Sebaliknya, warna pekat atau kuning tua mengindikasikan potensi dehidrasi atau kekurangan air.

Menurut Dr Ajit Singh Narula, Direktur Utama Nefrologi & Transplantasi Ginjal Fortis Escorts, warna urine normal bervariasi dari kuning jerami hingga kuning tua tergantung jumlah air yang diminum.

Saat dehidrasi, ginjal menyerap lebih banyak air dari urine sehingga pigmen menjadi terkonsentrasi dan warnanya menjadi kuning tua.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Djoko Wibisono, SpPD KGH menambahkan bahwa kepekatan air seni dapat dipicu oleh minimnya cairan tubuh, misalnya setelah olahraga berat dan kurang minum.

Meskipun demikian, air seni yang tampak bening tidak sepenuhnya menjamin kondisi tubuh bebas penyakit.

Pengujian laboratorium tetap diperlukan untuk mendeteksi keberadaan sel darah merah maupun protein yang menjadi indikator gangguan ginjal.

Selain faktor hidrasi, konsumsi obat tertentu seperti vitamin B kompleks dan fenazopirin untuk nyeri infeksi saluran kemih juga dapat memicu warna kuning tua atau oranye.

Penyakit kuning turut andil dalam mengubah pigmen tersebut.

Warna Kemerahan hingga Cokelat Tua

Kemunculan warna merah muda atau merah tua pada air seni patut diwaspadai karena menjadi tanda hematuria atau adanya darah.