Nilai tersebut jauh di bawah nilai buku aslinya yang mencapai US$ 933 juta, sehingga memberikan keuntungan akuntansi langsung (bargain purchase gain) yang mempertebal permodalan.

Struktur bisnis hulu-ke-hilir semakin sempurna setelah Chandra Asri mencaplok jaringan ritel bahan bakar Esso, menciptakan rantai nilai dari pemurnian di kilang hingga penjualan ke konsumen akhir.

Proyek Ekspansi dan Prospek ke Depan

in1

Chandra Asri tengah menggarap proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai US$ 800 juta di Cilegon bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA).

Proyek ini ditargetkan beroperasi pada 2027 untuk menyuplai industri nikel domestik dan pasar PVC global.

Lini bisnis infrastruktur melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terus diperkuat untuk mengelola air industri, energi, dan logistik pelabuhan.

CDIA menjadi jangkar stabil karena pendapatannya tidak sekonsisten bisnis petrokimia hulu.

Pada kuartal I-2026, total aset Chandra Asri melesat menjadi US$ 12,5 miliar dibandingkan US$ 5,7 miliar pada 2024.

Ekuitas meningkat menjadi US$ 4,86 miliar dengan margin EBIT terjaga di level 19,5%.

Kinerja ini diperkirakan stabil karena ketegangan geopolitik global menjaga margin kilang di Singapura di atas US$ 10 per barel.

>>> Sektor Semikonduktor Melonjak, Sentimen AS-Iran Dorong Wall Street Menguat

Di bursa, porsi saham publik (free float) meningkat menjadi 25,7%, sementara kendali strategis tetap di tangan Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil yang menguasai 74,3% saham.