Penyedia indeks saham global, MSCI, baru saja merilis laporan bertajuk MSCI 2026 Global Market Accessibility Review.

Laporan tersebut menyoroti sejumlah kelemahan di pasar modal Indonesia yang dinilai menghambat investasi asing.

in1

>>> MSCI Soroti Penurunan Transparansi Bursa Saham Indonesia

Dalam laporan itu, MSCI mengemukakan enam kritik utama terhadap bursa saham Indonesia. Kritik tersebut berkaitan dengan aspek kelayakan investasi dan transparansi.

Enam Kritik MSCI

Pertama, informasi perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia dinilai tidak selalu tersedia secara mudah dan lengkap dalam bahasa Inggris.

Hal ini memengaruhi kesetaraan hak bagi investor asing.

Kedua, transaksi efek menggunakan valuta asing (valas) masih terbatas. Belum ada pasar mata uang offshore yang efisien dan masih terdapat sejumlah pembatasan di pasar valas domestik.

>>> Pemerintah AS Batalkan Pembongkaran Sistem Pengamatan Laut US$386 Juta

Ketiga, investor asing tidak diperbolehkan mengakses fasilitas overdraft dalam melakukan aktivitas perdagangan. Keempat, fleksibilitas transfer aset dalam bentuk saham hanya diperkenankan dalam kondisi tertentu.

Kelima, akses peminjaman saham atau stock lending terbatas dengan jangka waktu maksimal 90 hari. Keenam, terdapat pembatasan pada skema perdagangan short selling di pasar modal.

Selain enam poin tersebut, MSCI juga mencatat masalah keterbatasan transparansi dalam struktur kepemilikan saham. Perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar juga menjadi perhatian.

>>> Kesepakatan Damai AS-Iran Dorong Penguatan Saham Asia

Meski mendapat kritik, pasar modal Indonesia saat ini masih berada dalam kategori Emerging Market. Hasil peninjauan tahunan klasifikasi lengkap akan diumumkan pada 23 Juni 2026 mendatang.