Pasar saham Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan aksi jual oleh investor asing. Risiko berlanjutnya diskon valuasi yang lebih lama menjadi kekhawatiran utama.

Kondisi ini dipicu oleh rilis laporan MSCI Global Market Accessibility Review – Juni 2026. Dalam laporan tersebut, penilaian Indonesia pada aspek Information Flow diturunkan dari "+" menjadi "-".

in1

>>> Enam Hari Besar yang Diperingati Setiap 14 April

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai investor asing cenderung mempertahankan posisi underweight.

Hal ini terjadi jika belum ada perbaikan signifikan pada transparansi, kualitas free float, dan integritas pasar.

"Risiko utama bukanlah hilangnya status sebagai emerging market, melainkan kemungkinan bahwa diskon valuasi Indonesia akan bertahan lebih lama," tulis Liza dalam risetnya.

Penurunan penilaian MSCI dipicu oleh terbatasnya transparansi struktur kepemilikan saham.

Informasi dalam bahasa Inggris juga belum selalu tersedia, serta ada kekhawatiran terhadap kualitas free float dan investabilitas sejumlah saham.

MSCI juga menyoroti indikasi praktik perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar.

Kiwoom Sekuritas menegaskan hal ini menjadi perhatian penting karena menunjukkan fokus MSCI pada integritas proses price discovery.

Meskipun demikian, status Indonesia sebagai emerging market dinilai masih aman.

>>> Republik Ceko dan Afrika Selatan Berbagi Poin di Piala Dunia 2026

Skor baik pada indikator aksesibilitas pasar lainnya, seperti keterbukaan bagi investor asing, regulasi, infrastruktur perdagangan, dan ketersediaan instrumen investasi, menjadi penopang.

Peluang penurunan status menjadi frontier market tergolong rendah.

Penilaian MSCI mencakup tiga pilar utama: tingkat perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta aksesibilitas pasar, di mana ukuran dan likuiditas Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan pasar frontier.

Peningkatan risk premium terhadap pasar Indonesia dinilai sebagai dampak yang lebih relevan.

Narasi MSCI memperkuat pandangan bahwa isu transparansi dan kualitas pembentukan harga tetap menjadi hambatan bagi investor global.

Tingginya arus keluar investor asing secara year-to-date, meningkatnya perhatian terhadap struktur kepemilikan akhir emiten, serta pergerakan harga saham yang belum mencerminkan fundamental menjadi cerminan kondisi pasar saat ini.

IHSG ditutup melemah 48,40 poin atau 0,78 persen ke level 6.172,34 pada Kamis (18/6/2026).

>>> Harga Bitcoin Merosot Dekati Level US$60.000 Akibat Kekhawatiran Pendanaan

Secara year-to-date, IHSG telah turun 28,62 persen dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp65,05 triliun.