Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi melaporkan korban meninggal dunia akibat gempa bumi tektonik magnitudo 6,7 bertambah menjadi tiga orang.

Gempa yang berpusat di Kota Palu, Sulawesi Tengah, terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB.

in1

>>> Rizky Billar Laporkan Enam Akun Medsos ke Polda Metro Jaya

Hingga Kamis (18/6/2026), BPBD Sigi mencatat 108 warga luka-luka serta 2.109 kepala keluarga atau 6.412 jiwa terdampak.

Kerusakan bangunan meluas mencakup 1.652 unit rumah dan 84 fasilitas umum.

Rincian kerusakan rumah di 38 desa meliputi 1.472 unit rusak ringan, 111 unit rusak sedang, dan 69 unit rusak berat.

Korban Tambahan dari Dua Desa

Kabid Bencana BPBD Sigi Ahmad Yani mengonfirmasi penambahan dua korban meninggal setelah sebelumnya hanya satu korban dari Desa Ampera.

"Dua korban tambahan berasal dari Desa Berdikari, Kecamatan Palolo dan Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki," kata Ahmad Yani saat ditemui di Dolo, Kamis.

Korban dari Desa Berdikari jatuh dan mengalami serangan jantung saat gempa mengguncang.

Ia dilarikan ke Rumah Sakit Bala Keselamatan di Kota Palu, namun proses pendataan belum masuk pada laporan awal.

>>> HokBen Promo Paket Hoka Murah Rp 18.000 Khusus Dine In hingga Akhir April 2026

Korban lainnya dari Desa Kamarora A mengalami cedera fisik akibat benturan di area perut. Korban juga memiliki riwayat penyakit tumor sehingga benturan diduga memperparah kondisinya.

Ahmad Yani menegaskan seluruh korban telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan medis sebelum meninggal. Proses pendataan masih terus berjalan.

Kunjungan Forkopimda dan Penanganan Darurat

Jajaran Forkopimda Sulawesi Tengah meninjau penanganan darurat dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. Kapolres Sigi AKBP Kari Amsah Ritonga menyebut Kecamatan Nokilalaki, khususnya Desa Kamarora A, sebagai wilayah paling terdampak.

"Daerah itu paling terdampak," kata Kari kepada kumparan, Rabu (17/6). Kunjungan ini untuk memantau pemulihan pascabencana dan memberikan penguatan mental bagi korban di posko pengungsian.

Data sementara dari Nokilalaki pada Rabu (17/6) mencatat 74 warga luka-luka, terdiri dari tiga luka berat dan 71 luka ringan, serta satu warga lansia 64 tahun meninggal.

Warga tersebut diduga mengalami serangan jantung atau hipertensi saat menyelamatkan keluarga.

>>> PN Jakarta Pusat Eksekusi Lahan Eks Hotel Sultan di GBK

Ribuan warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka retak dan tidak layak huni. "Beberapa warga masih mengungsi lantaran rumah mereka memang tidak layak huni," tandas Kari.