Ketua Ikatan Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA Untirta) Lamhot Sinaga menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi lintas lembaga untuk memperkuat tata kelola pekerja migran Indonesia (PMI).

Kolaborasi ini melibatkan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Pemerintah Provinsi Banten, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan IKA Untirta.

>>> Bank Mandiri Cermati Pasar Usai BI Rate Naik Menjadi 5,75 Persen

Lamhot yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI menekankan pentingnya sinergi tersebut. Hal ini untuk memastikan PMI mendapatkan akses pasar kerja internasional serta pelindungan dan peningkatan kompetensi.

"Kerja sama ini merupakan bentuk nyata bagaimana pemerintah, dunia industri, dan organisasi masyarakat dapat berjalan bersama untuk menciptakan ekosistem pekerja migran yang aman, profesional, dan berdaya saing global," kata Lamhot dalam kegiatan penandatanganan nota kesepahaman di Kantor Kementerian P2MI.

Menurut Lamhot, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang besar untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja global.

Tantangannya adalah memastikan calon pekerja migran memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri dan berangkat melalui jalur resmi.

Menteri P2MI Mukhtarudin mengatakan peluang kerja luar negeri bagi tenaga kerja Indonesia masih terbuka lebar.

Berdasarkan data SISKOP2MI periode Januari 2025 hingga 12 Juni 2026, Kementerian P2MI telah memfasilitasi 433.169 layanan penempatan PMI.

Lima negara tujuan utama penempatan PMI saat ini adalah Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Jepang, dan Singapura.

Sementara itu, berdasarkan SIP2MI per 13 Juni 2026, terdapat 313.803 peluang kerja di luar negeri.

Namun, baru 76.907 posisi atau sekitar 24,51 persen yang berhasil terserap.

"Masih ada 236.896 peluang kerja yang terbuka. Ini menjadi kesempatan besar bagi tenaga kerja Indonesia yang memiliki kompetensi," kata Mukhtarudin.