Prospek dan Risiko Saham Danantara

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, IDX BUMN20 tampak menguat akhir-akhir ini karena rebound teknikal, bukan karena re-rating fundamental.

Menurut Wafi, IDX BUMN20 ditopang oleh bobot saham Himbara dan energi Danantara yang dominan serta menjadi target akumulasi investor institusi.

Saham-saham Danantara bisa kembali outperform jika tinjauan MSCI menunjukkan hasil positif dan kurs rupiah tetap stabil.

Dia juga sepakat bahwa pelaksanaan buyback saham dan pembagian dividen tunai oleh emiten-emiten Danantara dapat kembali menjadi sentimen positif bagi IDX BUMN20 dalam jangka pendek.

"Namun, dengan kenaikan BI-Rate menjadi 5,75%, tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM) bank dan beban bunga infrastruktur masih ada," kata dia, Kamis (18/6).

>>> Rempah-rempah Umum yang Diam-diam Mengubah Gula Darah, Usus, dan Sel Anda

Senada, Arinda menganggap saham-saham Danantara masih cukup prospektif, terutama jika arus dana asing tetap terjaga dan kondisi makroekonomi domestik stabil.

Namun, keberlanjutan kinerja IDX BUMN20 tidak terlepas dari faktor seperti arah kebijakan suku bunga acuan BI, perkembangan ekonomi global, pergerakan rupiah, dan realisasi belanja pemerintah.

Jika sentimen global kembali memburuk atau terjadi tekanan terhadap pasar keuangan domestik, saham-saham Danantara juga berpotensi anjlok mengingat posisinya sebagai target utama investor asing.

"Peluang penguatan masih ada, tapi risiko volatilitas tetap perlu diantisipasi," imbuh dia.

Dari sekian saham Danantara, sektor perbankan masih menjadi pilihan paling menjanjikan, terutama BBRI, BMRI, dan BBNI.

Ketiganya memiliki fundamental yang relatif kuat, profitabilitas tinggi, likuiditas yang baik, serta konsisten membagi dividen.

Beberapa emiten dari sektor energi dan telekomunikasi juga menarik seiring stabilnya harga komoditas dan meningkatnya kebutuhan digitalisasi.