Yield rata-rata obligasi korporasi untuk tenor pendek atau di bawah lima tahun melonjak signifikan.

Berdasarkan data PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per 12 Juni 2026, tingkat imbal hasil tersebut mencapai 7,26 persen.

>>> KPK Sita Rumah Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia Arafiq di Semarang

Angka ini menunjukkan kenaikan besar dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar 5,19 persen.

Kenaikan juga terjadi pada tenor menengah (lima hingga tujuh tahun) yang mencapai 7,33 persen, naik dari 5,80 persen.

Untuk tenor panjang di atas tujuh tahun, yield berada di kisaran 7,33 persen.

Angka itu naik sekitar 85,3 basis poin dari posisi akhir 2025 di level 6,48 persen.

Lonjakan yield paling agresif melanda instrumen tenor pendek. Sementara itu, pertumbuhan imbal hasil obligasi jangka panjang lebih terbatas, sehingga kurva yield semakin mendatar (flattening).

Penyempitan Selisih Imbal Hasil

Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PHEI, Salvian Fernando, menyatakan bahwa menyempitnya selisih imbal hasil antara obligasi jangka pendek dan jangka panjang menjadi perhatian pelaku pasar.

Meski begitu, potensi inverted yield curve dalam waktu dekat dinilai masih rendah.

Indikator fundamental ekonomi domestik dinilai masih kokoh dan belum menunjukkan gejala krisis atau resesi. "Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, namun secara fundamental tanda-tanda krisis belum terlihat.

>>> Real Madrid Resmi Datangkan Bek Timnas Prancis Ibrahima Konate

Yield curve berubah karena repricing risiko yang cepat," ujar Salvian dalam Edukasi Wartawan terkait Market Outlook Obligasi Semester II 2026, Kamis (18/6/2026).

Peluang Penurunan Yield Tenor Pendek

Salvian memproyeksikan potensi koreksi yield tenor pendek lebih besar daripada kenaikan yield jangka panjang. Daya tarik imbal hasil obligasi jangka pendek saat ini dinilai sangat memikat investor.