Bank Indonesia Naikkan Yield SRBI ke Rekor Tertinggi 7,57 Persen
Bank Indonesia (BI) menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan ke level 7,57 persen.
Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah sejak instrumen tersebut diluncurkan pada September 2023.
>>> PHE OSES Tingkatkan Efisiensi Operasi Hulu Migas Lewat Program Nawasena
Kenaikan yield terjadi di tengah penurunan penawaran lelang mingguan.
Data lelang pada Rabu (10/6/2026) menunjukkan penawaran masuk menyusut 28,01 persen menjadi Rp35,59 triliun dari sebelumnya Rp49,44 triliun.
Nilai yang dimenangkan juga berkurang dari Rp30 triliun menjadi Rp15 triliun.
Meski demikian, minat investor asing terhadap SRBI tetap tumbuh setelah BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.
Outstanding SRBI pada Mei 2026 mencapai Rp979,88 triliun, tumbuh 17,1 persen dibandingkan posisi akhir Februari yang sebesar Rp837,22 triliun.
Kepemilikan asing non-residen tercatat Rp216,48 triliun, naik Rp65,69 triliun dalam dua bulan.
>>> Korea Selatan Kalahkan Ceko 2-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 1 tahun bergerak terbatas dengan kenaikan tipis 0,5 bps ke level 7,26 persen.
Analis Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan pergerakan ini menandakan upaya BI menahan yield jangka pendek.
Lionel menilai lonjakan imbal hasil instrumen pemerintah dan bank sentral berisiko mempengaruhi pasar obligasi korporasi. "Aktivitas bookbuilding obligasi dan sukuk korporasi lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.
Penyesuaian biaya pendanaan emiten berpotensi naik jika yield tenor pendek bergerak agresif. Dampaknya bisa menahan minat penerbitan surat utang di pasar modal.
Di sisi lain, transmisi kebijakan moneter ke sektor riil makin tertahan karena perbankan terus menambah kepemilikan SRBI hingga Rp677,89 triliun atau 69,2 persen dari total outstanding.
>>> 33 Titik Demo Jakarta Jumat 12 Juni 2026, Bundaran HI hingga Monas Jadi Lokasi Aksi
Perbankan cenderung menempatkan likuiditas pada aset BI yang aman dan berimbal hasil kompetitif di tengah pelemahan daya beli dan ketidakpastian ekonomi.
Update Terbaru
Republik Ceko Kalah 1-2 dari Korea Selatan di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Jumat / 12-06-2026, 13:20 WIB
IHSG 12 Juni 2026 Melesat ke Level 6.043 pada Sesi I
Jumat / 12-06-2026, 13:20 WIB
Pemerintah Benahi Tata Kelola, Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026 Diproyeksi Turun
Jumat / 12-06-2026, 13:20 WIB
Indofood Luncurkan Kembali Indomie Goreng Cabe Ijo Ukuran Jumbo
Jumat / 12-06-2026, 13:16 WIB
Rupiah Menguat Picu Aksi Beli di Pasar Obligasi SUN
Jumat / 12-06-2026, 13:12 WIB
Honda Racing Indonesia Andalkan Civic Type R Turbo di MFoS 2026
Jumat / 12-06-2026, 13:12 WIB
Kenaikan BI Rate ke 5,5% Diprediksi Tekan Sektor Properti Non-Subsidi
Jumat / 12-06-2026, 13:12 WIB
Toyota Perkenalkan Veloz Hybrid di Malang Lewat Ajang Semesta Berpesta
Jumat / 12-06-2026, 13:08 WIB
XLSMART Luncurkan ESTA Ecosystem untuk Percepat Transformasi Digital Enterprise
Jumat / 12-06-2026, 13:07 WIB
BYD Rilis MPV M6 DM di Indonesia Mulai Rp 298 Juta
Jumat / 12-06-2026, 13:07 WIB
4 Rekor Baru Tercipta di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Jumat / 12-06-2026, 13:07 WIB
5 Legenda Sepak Bola yang Jalani Piala Dunia Terakhir di 2026
Jumat / 12-06-2026, 13:05 WIB
Trafigura dan Vitol Perluas Pasar Minyak Venezuela ke Asia
Jumat / 12-06-2026, 13:05 WIB
Scott McTominay Sakit Perut Jelang Piala Dunia 2026, Pisah dari Bus Tim
Jumat / 12-06-2026, 13:05 WIB






