Kenaikan Suku Bunga Diperkirakan Hambat Penerbitan Obligasi Korporasi
Tren kenaikan suku bunga acuan dan tingginya imbal hasil instrumen pasar uang diperkirakan akan menghambat laju penerbitan obligasi korporasi pada tahun ini.
Hal ini disebabkan oleh biaya pendanaan yang semakin mahal, sehingga minat investor terhadap obligasi korporasi menghadapi persaingan ketat dari instrumen lain seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan deposito.
>>> Mitsubishi Perbarui eK Cross EV dengan Fitur Cadangan Listrik 1.500 Watt
Menurut data PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), pasar obligasi korporasi Indonesia tumbuh kuat pada 2025 dengan rekor penerbitan Rp 216,68 triliun.
Namun, hingga 12 Juni 2026, nilai penerbitan baru baru mencapai sekitar Rp 75,84 triliun dari proyeksi jatuh tempo Rp 155,02 triliun.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C.
Permana, mengatakan bahwa kenaikan BI Rate, kenaikan yield SUN, dan tingginya imbal hasil pasar uang membuat penerbitan obligasi korporasi sedikit tertahan.
>>> Yamaha dan Suzuki Naikkan Harga Motor Matik per Juni 2026
Peningkatan suku bunga belakangan ini memicu lonjakan imbal hasil di pasar obligasi, di mana yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat menyentuh level 7,4% pada pekan lalu.
Angka tersebut kemudian turun ke posisi 6,968% pada Kamis (18/6) karena meredanya ketegangan geopolitik global.
Meski demikian, Fikri menilai obligasi korporasi berperingkat AAA masih menarik bagi investor jika menawarkan spread di atas 50 hingga 70 basis poin terhadap Surat Utang Negara (SUN) untuk tenor lima tahun.
Faktor geopolitik global, inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga The Fed, likuiditas domestik, stabilitas rupiah, aliran dana asing, serta penilaian lembaga pemeringkat internasional akan menentukan arah pergerakan yield obligasi ke depan.
>>> Vi Selesaikan Jaringan Seluler di Seluruh Jalur Aqua Line 3 Mumbai Metro
Fikri juga menyarankan investor untuk mempertimbangkan saham dengan fundamental yang baik yang saat ini sudah cukup murah, serta tetap menjaga porsi dana di instrumen pasar uang seperti deposito.
Update Terbaru
Bank Mandiri Gelar Mandiri Jogja Marathon 2026 di Candi Prambanan
Kamis / 18-06-2026, 19:29 WIB
PLN UID Jatim Kurangi Pasokan Listrik Akibat Penurunan Suplai Batu Bara
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
OJK Tetapkan Tujuh Direksi Baru BEI Periode 2026-2030
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
Petugas Landis Sektor 5 Makkah Kawal Ribuan Jemaah Haji Lansia
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
Menkeu Purbaya Yakinkan Investor China soal Stabilitas Fiskal Indonesia
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
Thomas Tuchel Tarik Declan Rice demi Hindari Risiko Cedera
Kamis / 18-06-2026, 19:28 WIB
Rockstar Luncurkan Pembaruan Heist Kortz Center di GTA Online Juli
Kamis / 18-06-2026, 19:25 WIB
Timnas Honor of Kings Indonesia Lolos ke Babak Utama Asian Games 2026
Kamis / 18-06-2026, 19:25 WIB
Menhan AS Dorong NATO Kembali Jadi Aliansi Militer yang Kuat
Kamis / 18-06-2026, 19:25 WIB
Kemendikdasmen: TKA Penting untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Kamis / 18-06-2026, 19:24 WIB
Marc Marquez Redam Ekspektasi Jelang MotoGP Ceko 2026
Kamis / 18-06-2026, 19:24 WIB
Mengenal Puasa Mutih Jawa dan Hukumnya dalam Pandangan Islam
Kamis / 18-06-2026, 19:24 WIB
Kenali Perbedaan Lip Balm dan Lip Serum untuk Perawatan Bibir
Kamis / 18-06-2026, 19:24 WIB
Pernikahan Jennifer Coppen dan Justin Hubner di Bali Tuai Kritik Netizen
Kamis / 18-06-2026, 19:24 WIB






