Fasilitas penunjang di area kampus juga belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas netra.

Banyak mahasiswa tunanetra belum memiliki laptop dengan aplikasi pembaca layar khusus. Bahan pustaka di perpustakaan pun masih didominasi buku fisik atau cetak.

"Kondisi ini membuat mereka kesulitan memperoleh sumber belajar yang setara dengan mahasiswa lainnya," tutur Asep.

Selain kendala teknis, tantangan sosial turut membayangi. Sejumlah mahasiswa mengaku merasa terisolasi dalam aktivitas kampus maupun saat tugas kelompok.

Mereka jarang diberi kesempatan berpartisipasi karena anggapan tidak mampu memberikan kontribusi maksimal.

Menurut Asep, beban sosial ini lebih berat bagi mahasiswa disabilitas yang memiliki kepribadian introver.

Oleh karena itu, keberadaan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di setiap kampus didorong untuk tidak sekadar formalitas.

"Ke depan, fokusnya bukan lagi sekadar mendirikan ULD, tetapi memastikan layanan yang diberikan benar-benar meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan belajar mahasiswa disabilitas," ujar Asep.

>>> Polda NTB Serahkan Mantan Kapolres Bima Kota ke Jaksa dalam Kasus Narkoba

Ia berharap ada perluasan studi serupa untuk kelompok disabilitas lain, termasuk mahasiswa dengan hambatan pendengaran.