Kementerian Agama (Kemenag) mulai merancang standardisasi kosa isyarat keagamaan bagi penyandang disabilitas sensorik rungu wicara atau Tuli di Indonesia.

Program afirmatif ini dinamakan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia atau KOSMIN.

>>> Pelatih Norwegia Puji Haaland sebagai Pencetak Gol Terbaik Dunia

KOSMIN diluncurkan untuk memetakan sekaligus menyatukan bahasa isyarat untuk berbagai istilah keislaman yang selama ini belum memiliki standar baku.

Peluncuran program dilakukan dalam Kick-Off KOSMIN saat peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Latar Belakang Penyusunan KOSMIN

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad menyampaikan bahwa penyusunan KOSMIN didasari oleh kebutuhan sahabat Tuli terhadap bahasa isyarat keagamaan yang lebih baku.

Menurut Abu Rokhmad, banyak istilah keislaman dalam bidang teologi maupun fikih ibadah yang masih memicu kebingungan karena belum adanya kesepakatan isyarat.

"Istilah-istilah yang terkait dengan keislaman itu cukup banyak, tetapi belum ada standar yang menyatukan teman-teman Tuli ketika mengungkapkan pikiran atau menyampaikan penjelasan.

Konon, konsep mendasar tentang surga dan neraka saja belum ada kesepakatan isyarat bakunya. Termasuk istilah fikih harian seperti haid, nifas, istihadhah, hingga mimpi basah.

Oleh karena itu, Kemenag hadir untuk memberikan capaian luar biasa berupa standarisasi ini," urai Dirjen dalam laporannya, Selasa (16/6/2026).

Abu Rokhmad menilai standardisasi ini diharapkan mampu mempermudah sahabat Tuli dalam memahami, menjelaskan, dan mengakses literasi keislaman.

Langkah tersebut menjadi bagian dari tindakan Kemenag dalam menyajikan layanan keagamaan yang lebih inklusif serta ramah disabilitas.

KOSMIN merupakan kelanjutan dari program inklusi yang sebelumnya telah diinisiasi oleh Kementerian Agama.

Kemenag sebelumnya telah merampungkan penyusunan Master Al-Qur'an Isyarat yang dilengkapi dengan komponen tafsirnya.