Sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) kini menjadi bagian dari gaya hidup modern.

Peringatan Hari WFH Sedunia yang jatuh setiap 10 April menjadi momen penting untuk melihat kembali transformasi pola kerja konvensional menjadi lebih fleksibel berbasis teknologi.

>>> JD Vance: Penundaan Publikasi MoU AS-Iran karena Detail Teknis

Konsep bekerja dari jarak jauh sebenarnya sudah mulai dikenal sejak tahun 1970-an lewat istilah telecommuting.

Gagasan ini bertujuan menekan kemacetan lalu lintas serta mengurangi konsumsi energi akibat mobilitas harian pekerja.

Namun, penerapan kerja dari rumah pada masa itu belum optimal karena keterbatasan fasilitas teknologi.

Komunikasi antarpekerja masih bergantung pada telepon dan perangkat sederhana, sehingga kolaborasi jarak jauh sulit dilakukan secara efektif.

Perkembangan di Era Digital

Memasuki era 2000-an, perkembangan internet, laptop, dan perangkat komunikasi digital memicu pergeseran besar dalam dunia kerja.

Kehadiran platform kolaborasi daring seperti email, konferensi video, hingga cloud computing memungkinkan tugas diselesaikan dari mana saja.

Situasi ini mendorong banyak perusahaan, terutama di sektor teknologi, media, dan jasa profesional, untuk mulai mengadopsi sistem kerja fleksibel.

Pola WFH dinilai efektif mendongkrak produktivitas sekaligus memangkas biaya operasional.

Momentum ini kemudian diresmikan menjadi gerakan global. Peringatan Global Work From Home Day diperkenalkan secara resmi pada tahun 2019 oleh organisasi Remote-how.

Lonjakan Massal Saat Pandemi COVID-19

Pergeseran terbesar dalam adopsi kerja jarak jauh terjadi ketika pandemi COVID-19 melanda dunia pada tahun 2020.

>>> Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Palu, Pasien Rumah Sakit Dievakuasi

Kebijakan pembatasan sosial memaksa perusahaan di berbagai belahan dunia menerapkan sistem WFH secara massal.

Dalam periode singkat, status WFH berubah dari opsi fleksibilitas tambahan menjadi kebutuhan utama yang krusial.